Monday, January 19, 2026
HomeNewsIlmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara

Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara

IndonesianJournal.id, Jakarta – Studi terbaru dari Monash University menemukan bagaimana kekuatan besar dari kedalaman bumi membentuk risiko terjadinya “gempa dahsyat” yang merusak di salah satu batas lempeng paling berbahaya di dunia, yaitu zona megathrust Sunda.

Dengan menggunakan simulasi superkomputer 3D yang canggih, para peneliti menemukan bahwa lempeng bumi yang menghujam jauh di bawah pulau Jawa menciptakan aliran mantel dan tekanan kuat yang terdorong ke utara, hingga mencapai Sumatra dan wilayah Andaman. Kondisi ini membuat daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami gempa bumi paling kuat di dunia.

Zona megathrust Sunda pernah memicu bencana besar di zaman modern, seperti gempa dan tsunami Sumatra–Andaman pada tahun 2004 yang berkekuatan 9,3 magnitudo momen (Mw).

Namun, hingga kini para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mengapa gempa-gempa paling dahsyat justru terjadi di segmen utara, padahal lempeng yang menghujam di sana lebih muda, lebih pendek, dan secara teori seharusnya lebih lemah.

Dr Thyagarajulu Gollapalli, peneliti utama dari School of Earth, Atmosphere and Environment, Monash University, menjelaskan bahwa temuan ini menggugurkan anggapan lama mengenai proses terbentuknya ancaman gempa di pertemuan lempeng tektonik.

“Kami mendapati bahwa tarikan masif dari lempeng Jawa di bawah permukaan bumi bekerja seperti jangkar raksasa, yang menyeret lempeng di sekitarnya dan menambah tekanan tektonik dalam jarak ratusan kilometer,” jelas Dr. Gollapalli.

“Tekanan dari kedalaman bumi ini menjelaskan kenapa wilayah utara Sumatra mengalami tekanan terbesar dan gempa terkuat, meski lempeng lokal di sana sebenarnya tidak cukup kuat.”

Penelitian ini juga mengungkap bahwa zona megathrust di selatan Jawa bisa menjadi semacam “penghalang” gempa besar, karena tekanan kuat di sana membuat lempeng saling menekan rapat sehingga kemungkinan patahan raksasa lebih kecil.

Profesor Fabio Capitanio, penulis senior yang juga berasal dari School of Earth, Atmosphere and Environment, mengatakan bahwa penelitian ini memberikan sudut pandang baru yang sangat penting untuk memprediksi potensi bahaya seismik.

“Untuk pertama kalinya, kami berhasil menemukan hubungan antara proses subduksi di kedalaman bumi dengan titik pasti terbentuknya gempa-gempa besar,” ujar Profesor Capitanio.

“Model yang kami buat menunjukkan bahwa proses yang berlangsung 600 kilometer di bawah tanah Jawa dapat menjadi penentu lokasi terjadinya bencana di permukaan, sekaligus menunjukkan lokasi yang aman dari kejadian tersebut.”

Menurut para peneliti, temuan ini akan membantu memperbaiki model perkiraan risiko gempa di Asia Tenggara, wilayah yang dihuni lebih dari 300 juta orang di sekitar zona megathrust Sunda.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments