IndonesianJournal.id, Bogor – Program FORTRIZ telah diluncurkan secara resmi hari ini di IPB, sebagai kemitraan strategis Indonesia–Prancis untuk memperkuat kualitas gizi dalam program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peluncuran ini berlangsung dalam konteks Tahun Inovasi Indonesia–Prancis 2026, menyoroti peran strategis ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi terapan dalam memperkuat kemitraan bilateral kedua negara. Peluncuran ini juga bertepatan dengan peringatan ke-50 tahun Institut Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IRD) di Indonesia, menandai lima dekade kerja sama ilmiah jangka panjang dalam mendukung prioritas pembangunan Indonesia.
Program ini dilaksanakan bersama mitra ilmiah dan operasional terkemuka, yaitu IRD, SEAFAST Center IPB University, Savica, serta World Food Programme (WFP), yang mencerminkan komitmen bilateral tingkat tinggi. Melalui kolaborasi ini, FORTRIZ menjadi salah satu kontribusi konkret kerja sama bilateral dalam upaya meningkatkan gizi dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Melalui FORTRIZ, beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral ini, akan dikembangkan dan diuji untuk mendukung menu MBG, sehingga meningkatkan asupan zat gizi penting bagi anak sekolah. Lebih dari 20% anak sekolah di Indonesia mengalami kekurangan satu atau lebih vitamin atau mineral. Tahap awal program mencakup uji implementasi di empat wilayah dengan sekitar 2.400 siswa penerima manfaat langsung, serta ratusan siswa lainnya terlibat dalam studi penerimaan produk.
Selain gizi, FORTRIZ juga berkontribusi pada pemberdayaan sosial dan ekonomi. Program ini juga memperkuat kapasitas dapur sekolah dan tenaga pengolah pangan — sebagian besar di antaranya adalah perempuan — melalui pelatihan di bidang gizi, keamanan pangan, dan praktik fortifikasi. Pada skala nasional MBG, inisiatif ini berpotensi mendukung puluhan ribu pekerja dapur, terutama perempuan, serta memberi dampak tidak langsung bagi jutaan keluarga yang berpartisipasi.
Pemberian zat gizi (fortifikasi) pada pangan diakui secara luas sebagai salah satu intervensi paling efektif dan terjangkau untuk mengatasi kekurangan mikronutrien. Beras, sebagai pangan pokok Indonesia, menjadi media ideal untuk fortifikasi karena dikonsumsi setiap hari oleh sebagian besar penduduk. Dengan teknologi fortified rice kernel (FRK), vitamin dan mineral esensial dapat ditambahkan tanpa mengubah pola konsumsi masyarakat dan dengan biaya tambahan minimal per porsi makan.
FORTRIZ menempatkan sains dan inovasi sebagai inti programnya. Melalui pengembangan formulasi, uji mutu, uji rasa, dan studi penerimaan, program ini memastikan bahwa beras fortifikasi efektif, aman, terjangkau, dan diterima secara budaya. Pendekatan berbasis bukti ini mencerminkan komitmen bersama Indonesia–Prancis terhadap pengembangan yang didorong oleh inovasi. Selain itu, hal ini menempatkan FORTRIZ sebagai model bagaimana kemitraan riset dapat secara langsung mendukung prioritas kebijakan nasional.
Sebagai bagian dari Tahun Inovasi Indonesia–Prancis 2026 dan 50 tahun kehadiran IRD di Indonesia, FORTRIZ menjadi simbol konkret kerja sama bilateral. Inovasi ini menggabungkan keunggulan ilmiah, keahlian lokal, dan dampak kebijakan publik untuk meningkatkan gizi, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Program ini didukung oleh Kementerian Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis dan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta.

