Indonesian Journal, Jakarta – Sekuel The Devil Wears Prada 2 jadi perbincangan hangat, tapi bukan karena glamor dunia fashion seperti yang diharapkan. Kali ini, sorotan datang dari hal yang lebih sensitif berupa dugaan penggambaran stereotip terhadap karakter Asia.
Di media sosial, potongan adegan film yang menampilkan karakter bernama Jin Chao langsung memicu reaksi. Bukan sekadar nama, bunyinya terdengar bernada rasis, yang kerap digunakan untuk mengejek orang Asia, khususnya di konteks Barat.
“Terdengar mirip dengan istilah rasis Ching Chong : sebutan yang sering dipakai untuk mengejek orang China,” ulas akun 6AM China News di Instagram.
Merujuk pada video yang beredar di YouTube, karakter tersebut juga digambarkan dengan kepribadian yang kaku, canggung, dan kurang fashionable. Narasi ini kemudian dibaca sebagai pengulangan pola lama dalam industri film. Pola tersebut menjadikan karakter Asia ditempatkan sebagai “outsider” di lingkungan elit.
Alasan The Devil Wears Prada 2 Diduga Angkat Stereotip Orang Asia
Video tersebut pada dasarnya menyoroti bagaimana detail kecil seperti penamaan karakter hingga gestur visual dapat membentuk persepsi yang lebih luas. Bukan hanya soal satu karakter, tetapi bagaimana representasi itu beresonansi dan berdampak nyata bagi sebagian penonton Asia di ruang global.

Reaksi publik pun meluas, tidak hanya di China, tetapi juga di negara Asia lain seperti Korea. Kritik tidak lagi berhenti pada film, melainkan berkembang menjadi perdebatan soal representasi Asia di industri Hollywood.
Salah satu komentar menyebutkan bahwa stereotip yang ditampilkan terasa “usang namun terus diulang”. Komentar mengaitkan penggambaran orang Asia dianggap tidak “cocok” berada di ruang-ruang mewah atau industri premium, meski secara nyata tidak demikian.
Ada pula yang mempertanyakan logika di balik karakterisasi tersebut. Dalam salah satu tanggapan, netizen menilai karakter Asia dengan cara berpakaiannya yang tidak masuk akal. Dalam penggambarannya seolah-olah mereka tidak relevan dengan lingkungan profesional , meski tidak lagi sesuai realitas.
Sejumlah netizen juga mempertanyakan bagaimana respons pihak produksi terhadap kritik yang bermunculan di berbagai platform.
Di titik ini, isu yang awalnya tampak seperti kritik film berubah menjadi diskursus yang lebih luas. Bukan lagi sekadar soal adegan atau karakter, tetapi tentang bagaimana stereotip dibentuk, dipertahankan, dan terus berulang dalam narasi populer.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini memiliki irisan dengan konsep keberlanjutan, khususnya dalam dimensi sosial. Representasi yang inklusif dan adil menjadi bagian dari ekosistem yang berkelanjutan, tidak hanya dalam ekonomi, tetapi juga dalam industri kreatif.
Ketika stereotip terus direproduksi, dampaknya tidak berhenti pada layar, tetapi merembet ke persepsi sosial yang lebih luas. Sebaliknya, representasi yang lebih akurat dapat memperkuat ekosistem yang lebih sehat. Sejatinya, keberagaman tidak hanya perlu diakui, tetapi juga diposisikan secara setara.
