Jadi Film Biopik Tersukses, Michael Curi Perhatian Pasar Film Indonesia

Indonesian Journal, Jakarta – Bagi penonton Indonesia, menonton film “Michael” bukan sekadar pergi ke bioskop untuk melihat sebuah biografi. Ini adalah sebuah ritual kerinduan. Sejak diputar serentak pada 22 April 2026, antusiasme masyarakat tetap tinggi hingga hari ke-6 penayangannya hari ini.

Bukan Sekadar Akting, Tapi Reinkarnasi Kekuatan utama yang menyentuh sisi emosional penonton lokal adalah kehadiran Jaafar Jackson. Sebagai keponakan asli sang King of Pop, Jaafar tidak hanya berakting; ia membawa DNA, gerak tubuh, dan aura yang membuat penonton di dalam studio seolah sedang menyaksikan “reinkarnasi” Michael.

Di bioskop-bioskop area Tangerang Selatan hingga Bogor, terlihat fenomena unik: orang tua membawa anak-anak remaja mereka. Ada sebuah transfer memori yang terjadi. Bagi generasi yang tumbuh dengan kaset Thriller, film ini adalah “konser pengganti” yang tak pernah sempat mereka saksikan di Jakarta.

Menutup Mata pada Kontroversi Jika kritikus Barat sibuk mempertanyakan mengapa skandal masa lalu MJ tidak dikupas lebih dalam, penonton Indonesia justru memilih untuk merayakan karya seninya. Bagi audiens lokal, Michael Jackson adalah simbol kerja keras dan keajaiban panggung. Air mata yang tumpah saat lagu Man in the Mirror berkumandang di pengeras suara bioskop menjadi bukti bahwa cinta penggemar jauh lebih kuat daripada catatan kaki para kritikus.

Pada akhirnya, “Michael” membuktikan bahwa meski sosoknya sudah lama tiada, pengaruhnya masih sanggup menyatukan ribuan orang dalam satu ruang gelap untuk sekadar bernostalgia dan memberi tepuk tangan berdiri.

Community Podcast

Latest articles

Related articles