Apakah Ekonomi Indonesia Baik-Baik Saja? Ekonom Soroti Pentingnya Tata Kelola

Indonesian Journal, Jakarta — Ekonom senior, Mohamad Ikhsan, menyatakan gejala ekonomi Indonesia saat ini yang mirip dengan periode menjelang krisis 1998. Pendapatnya pada diskusi “Menakar Akurasi Laporan the Economist”, Jumat (22/5), memantik pertanyaan: apakah ekonomi Indonesia baik-baik saja?

Di mimbar Universitas Paramadina kemarin, hadir Didik J. Rachbini selaku rektor. Selain itu hadir pula Siti Zuhro dari BRIN, Sudirman Said selaku rektor Universitas Harkat Indonesia, dan Wijayanto Samirin selaku ekonom lainnya.

Mohamad Ikhsan sendiri menekankan perihal tata kelola dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global sebagai faktor penentu.

“Tadi disampaikan bahwa ada persoalan tata kelola yang seperti main bola. Kalau saya mau gol-in, sudah minggir deh!” ucap Ikhsan, yang diiringi gelak tawa peserta diskusi.

Metafora yang disampaikan ekonom senior tersebut sejatinya mengarah kepada kekhawatiran : kebijakan ekonomi yang terlalu politis, check and balance yang melemah, menjadikan kepercayaan pasar global turun.

Untuk itu, ia menyoroti pentingnya menjaga kredibilitas data, konsistensi kebijakan, serta kepercayaan pasar terhadap lembaga negara. Menurutnya, tekanan terhadap ekonomi Indonesia 2026 ini terletak pada kualitas governance dan stabilitas kebijakan domestik. 

“Kalau trust terhadap institusi mulai turun, itu yang berbahaya,” ujarnya.

Mantan Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi itu menegaskan kondisi Indonesia saat ini memang belum berada dalam situasi krisis seperti 1998. Namun, ia mengingatkan adanya sejumlah warning signs yang perlu diantisipasi sejak dini agar ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Ia juga menilai kekuatan ekonomi bukan sekedar angka pertumbuhan, melainkan kemampuan negara menjaga disiplin fiskal, independensi institusi, dan kepastian regulasi. 

Tata Kelola Disebut Jadi Fondasi Ketahanan Ekonomi

Di tengah dorongan pembangunan berkelanjutan dan implementasi prinsip ESG, kualitas institusi kini semakin menjadi perhatian investor global. Stabilitas ekonomi Indonesia dinilai tidak lagi cukup hanya ditopang pertumbuhan konsumsi atau investasi semata. Terdapat perihal transparansi kebijakan dan konsistensi arah pembangunan yang sepatutnya dijaga.

“Sejarah tidak sedang diam, tapi ia sedang berbisik. Dan, bisikannya semakin keras,” ujar Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia simbolik.

Makna dari simbolik itu menunjukkan bahwa krisis terjadi bersama sejarah sebagai sinyal yang menyertainya. Kegelisahan pasar juga menjadi kegelisahan rakyat, yang “bisikannya” harus disadari mulai terdengar nyaring. 

Mohamad Ikhsan menilai pemangku kebijakan untuk kembali mempelajari sejarah dari krisis 1998. Tekanan ekonomi berpotensi membesar ketika publik dan pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap sistem. Karena itu, penguatan reformasi kelembagaan dan tata kelola disebut penting untuk menjaga ekonomi Indonesia baik-baik saja di tengah ketidakpastian global.

Community Podcast

Latest articles

Related articles