Indonesian Journal, Jakarta – Prancis menempati peringkat ke-3 secara global dalam hal jumlah institusi yang tercatat di 20 besar peringkat Shanghai, dengan Paris-Saclay dan Paris Sciences et Lettres (PSL) termasuk di antara 20 universitas terbaik di dunia.
Mendapat dukungan besar dari pemerintah Prancis dan disertai dengan tawaran biaya kuliah yang terjangkau diberbagai universitas negeri terkemuka. Serta pilihan program studi yang ditawarkan, seperti biologi, keamanan siber, manajemen dan humaniora, membuat Prancis menjadi salah satu negara yang menjadi tujuan pelajar melanjutkan pendidikannya. Dari mulai jenjang S1 hingga S3.
Belajar di negeri orang pasti memerlukan persiapan khusus. Tidak sekedar bicara dana tapi juga pembiasaan kehidupan sehari-hari yang harus disesuaikan dengan peraturan dan masyarakat setempat. Untuk itu lah Kedutaan Besar Prancis—Institut français d’Indonésie (IFI) dan Campus France menyelenggarakan seminar Persiapan Keberangkatan Kuliah di Prancis yang digelar Institut Français d’Indonésie (IFI) Jakarta, Kamis (18/6). Sejumlah alumni dan pendamping mahasiswa Indonesia di Prancis berbagi pengalaman mengenai kehidupan kampus, budaya, hingga cara beradaptasi di negeri tersebut.
Shena, salah satu alumni yang mengisi sesi sharing menyampaikan bahwa rasa percaya diri menjadi modal pertama saat tiba di Prancis. Berbaur dengan mahasiswa lainnya tanpa harus memaksakan diri untuk diterima dalam lingkungan sosial baru.
“Saya dulu ingin sekali masuk ke lingkungan mereka. Karena terlalu memaksakan, akhirnya justru tidak bisa. Jadinya malah canggung dan tidak natural,” ujarnya.
Shena mengaku sempat mengalami masa-masa minder ketika pertama kali tinggal di Prancis. Meski sudah belajar bahasa Prancis sebelum berangkat, kenyataan di lapangan ternyata berbeda dengan yang dibayangkan.
Menambahkan cerita pegalaman Shena, Yoshua yang juga alumni mahasiswa di Prancis yang kini menjadi tim IFI Jakarta berbagi pengalamannya yang wajib diketahui calon mahasiswa Indonesia.
“Biaya hidup antara 600-700 euro per bulan, diluar biaya kuliah. Sekali makan di restoran sederhana, biasanya antara 10-12 euro. Ada sih yang lebih murah. Kisaran antara 10 hingga 12 euro sekali makan. Untuk makanan halal tidak perlu akhawatir. Karena komunitas Muslim yang besar dari Aljazair, Maroko, Turki, dan berbagai negara lainnya membuat produk halal cukup mudah ditemukan,” tutur Yoshua. “Tapi buat roti baguette yang menjadi menu sehari-hari masyarakat Prancis tergolong sangat murah, yaitu sekitar 2 euro, bahkan lebih murah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Yoshua menjelaskan mekanisme sewa tepat tinggal. Awal menyewa satu unit apartemen mahasiswa harus menyediakan dana yang cukup besar, karena ada uang deposit yang besarnya sama dengan biaya satu bulan sewa apartemen. Deposite ini diperlukan untuk mengganti kerusakan atau kehilangan yang terjadi saat apartemen ditempati. Jadi sangat perlu pengecekan isi apartemen sebelom memutuskan untuk tinggal.
“Kunci rumah atau appartemen jangan sampai hilang, karena kehilangan kunci atau pun akses apartemen bisa menguras dompet hingga 200 euro dan membutuhkan waktu yang lama untuk kunci baru. baru,” tambah Yashua lagi.
Selain itu Yoshua juga menjelaskan diskon transprotasi untuk yang berusia maksimal 27 tahun, pentingnya pertemanan terutama berada dalam satu komunitas, museum dan tempat budaya gratis untuk mahasiswa, kesempatan kerja paruh waktu dibidang informal dengan batasan 20 jam per minggu dan berbagai program gratis untuk mahasiswa internasiona.
“Kunci sukses hidup di Prancis bukan hanya soal kemampuan akademik atau penguasaan bahasa, melainkan keberanian untuk beradaptasi, membangun relasi, dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang telah disediakan. Dengan persiapan yang tepat, pengalaman kuliah di Prancis bisa menjadi salah satu fase paling berharga dalam kehidupan seorang mahasiswa,” tutup Yoshua
