Indonesian Journal, Jakarta – Menjadi orang yang special sering membuat seseorang merasa tidak percaya diri dan meletakkan dirinya dibawah orang-orang yang terlahir sempurna. Padahal, keterbatasan itu tidak ada artinya jika diberi ruang buat mengeksplor kemampuan, minat dan bakat yang ada.
Ini lah yang dilakukan oleh Michael Anthony Kwok, seorang pianis yang mendapat kesempatan memperdalam kemampuannya bermain piano ke Perancis pada program musik musim panas intensif di Paris dan tampil di salah satu festival musik klasik ternama di ibu kota Prancis. Kesempatan ini diraih Michael sebagai pemenang utama program Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025.
“Kami menemukan minat Michael tidak sengaja. Diusia 2 tahun tiba-tiba Michael bisa mengikuti irama tukang es krim yang sering lewat di depan rumah kami. Michael memainkannya dengan 2 jari, kebetulan di rumah memang ada piano buat latihan kakaknya,” ujar Mentalia Kurnia ibu dari pianis yang saat ini berusia 23 tahun, saat ditemui awak media di kantor Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – Institut français d’Indonésie (IFI), Jakarta Pusat, pada Jum’at (14/8).
Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – Institut français d’Indonésie (IFI) dan Ananda Sukarlan Center (ASC), yang sejak tahun 2014 telah berkomitmen untuk membina generasi penerus musisi klasik Indonesia melalui mobilitas seni, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama budaya. Selama lebih dari satu dekade, IFI dan ASC telah bekerja sama untuk memberikan akses kepada musisi muda Indonesia ke ekosistem musik Prancis yang terkenal secara internasional. Selain menjadi venue babak final Ananda Sukarlan Award di IFI Jakarta, IFI juga telah memberikan beasiswa kursus musim panas tahunan di Prancis kepada Pemenang Hadiah Utama kompetisi tersebut sejak tahun 2014.
Kehadiran Michael Anthony Kwok sebagai pemenang utama ASA merupakan hal yang istimewa, karena kondisi Michael yang merupakan penyandang autistme dan tunanetra.
“Ini pertama kalinya kita mendapat pemain piano dari spektrum autisme dan juga tunanetra. Kebetulan saya juga punya sindrom Asperger yang juga spektrum autisme. Jadi kita saling mengerti. Kita bawa dia ke Paris, agar dia bisa belajar di sana, dan juga guru-guru di sana banyak belajar. Sebenarnya guru-guru di sana sudah biasa bagaimana meng- handle pianis tunanetra. Tapi pianis tunanetra dan dari spektrum autisme ini baru pertama kali.” Jelas Pianis dan Composer Ananda Sukarlan yang ditemui awak media dimomen yang sama.
Di Paris, Michael mengikuti program intensif di Conservatoire Municipal Charles Munch. Ia menjalani enam sesi privat bersama tiga pianis asal Prancis, yakni Orlando Bass, Isabelle Dubuis, dan Éric Le Sage. Bersama Orlando Bass, Michael mendalami teknik piano dan interpretasi musik. Ia kemudian mengkaji karya Maurice Ravel bersama Isabelle Dubuis serta repertoar Francis Poulenc dan Claude Debussy bersama Éric Le Sage.
Michael Anthony Kwok membagikan rasa bahagia dan antusias mengikuti program ini. “Konsernya seru banget, aku jadi ingin membuat cerita perjalanan saat belajar piano ke Paris selama 16 hari.” Jelas nya menceritakan keinginannya ke depan.
Kebahagian Michael ini dibenarkan oleh sang mama yang setia mendampingi selama masa belajar di Paris hingga kembali ke tanah air. “”Ia bahkan bisa membedakan bagaimana guru di Paris dan Indonesia yang memiliki cara mengajar yang berbeda. Meski tidak bicara, tapi dari mimik, gesturnya, Michael menunjukkan rasa nyamannya saat belajar,” tutur Mentalia Kurnia lagi.
Puncak perjalanan Michael terjadi ketika ia mendapat undangan tampil di Festival Fièvres Musicales di Paris pada 17 dan 18 Juni 2026.
Dalam festival tersebut, Michael membawakan Le Tombeau de Couperin karya Maurice Ravel, yang dipelajarinya selama menjalani residensi di Paris.
Ia juga membawakan Rapsodia Nusantara No. 44 karya Ananda Sukarlan. Karya tersebut menggunakan melodi lagu rakyat Indonesia Potong Bebek Angsa dengan referensi tradisi musik klasik Eropa.
