Indonesian Journal, Jakarta — Kapasitas aluminium Indonesia diproyeksikan melonjak tiga kali lipat dalam tiga tahun mendatang. Lonjakan ini disampaikan dalam penutupan pameran GIFA dan METEC Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran. Namun, pertumbuhan cepat ini berpotensi menimbulkan penyumbatan arus produksi di tahap akhir pengolahan.
Aluminium menjadi fokus strategis baru dalam edisi pameran tahun ini. Fokus ini menjadi fondasi awal bagi peluncuran Aluminium Pavilion pada edisi 2028 mendatang. Pavilion tersebut akan dirancang untuk menjawab kebutuhan rantai produksi aluminium secara lebih menyeluruh.
Kesenjangan Kapasitas Hulu dan Hilir
Aluminium menjembatani dua tahap besar dalam proses produksinya. Tahap awal disebut peleburan (mencairkan bijih logam) dan pemaduan (mencampur logam dengan bahan lain). Tahap akhir mencakup pembuatan produk jadi seperti lembaran logam, foil, hingga komponen kendaraan.
Persoalan muncul karena kecepatan pertumbuhan di kedua tahap ini tidak seimbang. Proses peleburan dan pengolahan awal diproyeksikan tumbuh lebih cepat dibanding kemampuan pabrik pengolahan akhir. Kondisi ini yang dalam istilah industri disebut bottleneck, atau penyumbatan arus produksi akibat kapasitas yang tidak merata.
Jika dibiarkan, hasil peleburan dan pengolahan awal berisiko menumpuk tanpa bisa diolah lebih lanjut. Pabrik pengolahan akhir belum tentu mampu mengubah semua hasil itu menjadi lembaran logam, foil, bahan ekstrusi, atau komponen otomotif dan kendaraan listrik secara tepat waktu. Kesenjangan kapasitas ini yang perlu segera diatasi industri nasional.
Respons Pelaku Industri
Managing Director Messe Düsseldorf Asia, Lars Wismer, menyoroti pentingnya dialog langsung antar pelaku industri.
“Pemilik smelter, pabrik pengecoran, pengolah aluminium, dan penyedia teknologi mengatasi tantangan untuk meningkatkan produktivitas bersama,” katanya.
Smelter sendiri adalah pabrik peleburan logam dari bahan mentah.
Country General Manager PT Pamerindo Indonesia Lia Indriasari menekankan peran pameran ini menghubungkan produsen lokal dengan teknologi global.
“Kami menghubungkan produsen lokal dengan inovasi global dalam otomatisasi dan metalurgi hijau,” ujarnya.
Metalurgi sendiri adalah ilmu dan teknik pengolahan logam dari bahan mentah menjadi produk siap pakai.
Kebutuhan ini turut divalidasi oleh pelaku industri pertambangan besar di Indonesia. General Superintendent Mill Metallurgy PT Freeport Indonesia, Yopi Mandra Komara, menyebut pameran ini membantu proyek perusahaan ke depan.
“Wawasan yang diperoleh akan mendukung proyek-proyek kami ke depan,” kata Yopi memberikan respon.
Penyelenggaraan tahun ini menghimpun 260 perusahaan peserta dari 20 negara. Pameran turut menarik lebih dari 6.000 pengunjung profesional selama empat hari penyelenggaraan. Pencapaian ini menegaskan posisi GIFA dan METEC Indonesia sebagai platform utama industri logam di Asia Tenggara.
Messe Düsseldorf Asia dan Pamerindo Indonesia resmi mengumumkan penyelenggaraan edisi berikutnya pada September 2028. Ketua Umum GAMMA Dadang Asikin menyambut baik kesempatan interaksi langsung dengan pemasok global ini.
“Ini memberikan kesempatan bagi pelaku industri domestik untuk berinteraksi secara real-time,” tegas Dadang.

