Kinerja Lingkungan Produk Logam Jadi Tuntutan Pasar Global, Ini Tawaran Industri

Indonesian Journal, Jakarta — Kinerja lingkungan produk logam kini menjadi tuntutan utama pasar global. Hal ini mengemuka dalam penutupan pameran GIFA dan METEC Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran. Sejumlah eksibitor turut memamerkan solusi konkret untuk menjawab tantangan tersebut.

Dr. Sri Raharno dari Institut Teknologi Bandung menegaskan pergeseran tuntutan pasar ini dalam seminar utama pameran. 

“Pasar global mulai menuntut produk logam dengan jejak karbon yang lebih rendah dan transparansi kinerja lingkungan yang lebih baik,” katanya. 

Artinya, pembeli internasional kini turut menilai seberapa besar emisi yang dihasilkan saat produk dibuat, bukan hanya kualitas fisiknya semata.

Menurut Dr. Sri lagi, tantangan terbesar industri metalurgi dan pengecoran logam Indonesia adalah membangun industri rendah karbon. Industri tersebut juga harus hemat energi, terdigitalisasi, dan berbasis ekonomi sirkular atau pemanfaatan ulang bahan baku. Keberhasilan transformasi ini akan menentukan daya saing industri nasional di pasar global.

Solusi yang Ditawarkan Industri

Menjawab tantangan tersebut, perusahaan teknologi asal Austria qoncept Technology GmbH memamerkan solusi berbasis kecerdasan buatan. Ini merupakan kali pertama perusahaan tersebut tampil di Indonesia. Head of Sales and Business Development qoncept Technology, Dr. Stefan Griesser, menjelaskan cara kerja sistemnya.

“Sistem perangkat lunak kami mampu mempelajari data produksi secara mandiri untuk menganalisis bagaimana bahan baku memengaruhi efisiensi energi dan jejak CO2,” katanya. 

Sistem ini menjembatani mesin pabrik lama dengan teknologi digital modern. Hasil analisisnya kemudian digunakan untuk mengoptimalkan proses produksi secara menyeluruh.

Solusi lain datang dari Indaid Thermal Engineers, perusahaan penyedia tungku industri asal India. Managing Director Indaid Thermal Engineers, Narayanan Dandapani, merekomendasikan alat pembakar regeneratif untuk tungku bersuhu tinggi. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan kembali panas sisa yang biasanya terbuang percuma.

“Kami merekomendasikan pembakar regeneratif untuk tungku pemanasan ulang bersuhu tinggi. Alat ini dapat memangkas sekitar 25 hingga 45 persen konsumsi bahan bakar,” ujarnya. 

Angka penghematan ini menunjukkan potensi besar efisiensi energi di industri logam.

Konsensus Teknologi Hemat Energi

Kedua solusi ini mencerminkan konsensus industri bahwa teknologi hemat energi bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Adopsi teknologi semacam ini kini menjadi prasyarat utama bagi produsen Indonesia yang ingin menembus rantai pasok global. Kinerja lingkungan produk logam pun perlahan menjadi faktor penentu daya saing, sejajar dengan harga dan kualitas.

Fokus ini sejalan dengan tiga pilar utama yang diusung GIFA dan METEC Indonesia 2026. Ketiganya mencakup dekarbonisasi dan efisiensi energi, smart factory dan kecerdasan buatan, serta ekonomi sirkular dan teknologi masa depan. Ketiga pilar ini menjadi arah baru pameran dibanding edisi-edisi sebelumnya.

Pameran ini turut menghimpun 260 perusahaan peserta dari 20 negara sepanjang penyelenggaraannya. Lebih dari 6.000 pengunjung profesional turut hadir selama empat hari gelaran. Penekanan pada kinerja lingkungan produk logam ini menegaskan arah baru industri metalurgi dan pengecoran Indonesia ke depan.

Community Podcast

Latest articles

Related articles