Indonesian Journal, Jakarta — Home Sweet Loan The Musical resmi dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 30 September 2026. Pertunjukan persembahan Visinema bersama Indonesia Kaya dan Jakarta Art House ini mengajak penonton melihat kembali arti “kembali pulang” melalui perjalanan Kaluna.
Musikal tersebut hadir dalam 23 pertunjukan hingga 18 Oktober 2026. Kisah Kaluna disampaikan melalui perpaduan cerita, musik, koreografi, dan permainan para pemeran untuk menghadirkan pengalaman panggung yang utuh.
Dari Impian Punya Rumah hingga Mencari Arti Pulang
Home Sweet Loan The Musical diadaptasi dari novel karya Almira Bastari yang sebelumnya juga telah hadir dalam medium film. Perjalanan Kaluna dikenal sebagai kisah tentang perjuangan memiliki rumah sendiri, terutama ketika impian tersebut berhadapan dengan tanggung jawab dan tekanan kehidupan.
Namun, versi musikal membawa pertanyaan tersebut ke wilayah yang lebih personal. Ketika seseorang akhirnya memiliki ruang untuk dirinya sendiri, pertanyaannya kemudian bergeser: di mana dan dengan siapa seseorang benar-benar bisa merasa pulang?
Dalam perjalanan Kaluna, rumah tidak hanya digambarkan sebagai tempat tinggal. Rumah juga menjadi ruang untuk merasa aman, sekaligus tempat yang menyimpan kenangan, konflik, tanggung jawab, dan hubungan dengan orang-orang terdekat.
Kaluna kemudian mulai berani mengambil jarak dari rumah yang selama ini menjadi sumber tekanan. Ketika kesempatan memiliki rumah impian datang, ia justru memahami bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke suatu tempat, melainkan menemukan kembali apa dan siapa yang membuat sebuah ruang terasa berarti.
Makna tersebut membuat cerita Kaluna beririsan dengan pengalaman sosial banyak orang. Billy Gamaliel, Program Manager Indonesia Kaya, mengatakan kisah tersebut dekat dengan persoalan keluarga, tanggung jawab, tekanan hidup, hingga impian memiliki rumah.
“Home Sweet Loan The Musical berangkat dari cerita yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang, tentang keluarga, tanggung jawab, tekanan hidup, hingga impian untuk memiliki rumah,” ujar Billy Gamaliel.
Menurut Billy, produksi tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia Kaya dalam memperkuat ekosistem pertunjukan musikal melalui kolaborasi lintas industri dan pengembangan talenta. Keterlibatan talenta dari berbagai latar belakang, menurutnya, menjadi ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan berkembang.
Kembali Pulang dalam Banyak Versi
Gagasan tentang “kembali pulang” kemudian diterjemahkan melalui interpretasi dua pemeran Kaluna, Kalya Islamadina dan Chintana Jo. Keduanya memerankan karakter yang sama dengan perspektif masing-masing terhadap perjalanan Kaluna.
Bagi Kalya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa memiliki rumah sendiri tidak otomatis membuat seseorang menemukan rasa aman. Ada hal-hal yang perlu dihadapi dan dilepaskan sebelum seseorang memahami apa yang benar-benar dibutuhkannya.
“Buat saya, Kaluna awalnya sangat yakin bahwa ketika ia punya rumah sendiri, ia akhirnya punya tempat untuk merasa aman. Tetapi perjalanan yang ia alami membuatnya memahami bahwa rasa pulang ternyata tidak sesederhana memiliki sebuah tempat,” ujar Kalya Islamadina.
Sementara itu, Chintana melihat pulang sebagai pengalaman yang personal. Baginya, pulang bisa berarti kembali ke rumah, bertemu keluarga, atau berada di tempat yang familiar, tetapi juga dapat berarti ketika seseorang diterima dan dapat menjadi dirinya sendiri.
“Melalui Kaluna, saya belajar bahwa pulang juga bisa berarti ketika kita akhirnya diterima dan bisa menjadi diri sendiri,” ujar Chintana Jo
Perbedaan pemaknaan tersebut membuat “kembali pulang” dalam kisah drama musikal sang tulang punggung keluarga ini tidak berhenti pada pencarian sebuah alamat. Ia menjadi perjalanan untuk memahami hubungan seseorang dengan rumah, keluarga, lingkungan, sekaligus dirinya sendiri.
Cerita Sosial yang Hadir Melalui Panggung
Pesan tersebut dibangun bersama skala produksi yang melibatkan banyak talenta. Home Sweet Loan The Musical menghadirkan 37 pemeran, termasuk dua pemeran Kaluna, pemeran pendukung, dan ensemble, serta lebih dari 50 insan kreatif di balik panggung.
Pertunjukan ini juga menghadirkan 18 lagu, di antaranya “Kembali Pulang”, “Kapan Pulang”, “Memang Milikku”, “Berakhir di Aku”, dan “Rumah dalam Ingatan”. Musik dan koreografi digunakan untuk menerjemahkan perubahan cara Kaluna memandang rumah dan perjalanan hidupnya.
Di atas panggung, perubahan ruang juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Set merepresentasikan berbagai ruang dalam kehidupan Kaluna, mulai dari rumah keluarga, kamar tidur, ruang kerja, hingga ruang yang berkaitan dengan pencariannya menemukan tempat sendiri.
Persoalan memiliki rumah juga bersinggungan dengan isu generasi sandwich dalam materi promosi pertunjukan. Bank Syariah Indonesia hadir sebagai pendukung melalui BSI Griya dengan bingkai membantu generasi sandwich mewujudkan rumah impian. Elemen tersebut ditempatkan sebagai bagian dari dukungan sponsor terhadap pertunjukan, bukan sebagai penyelesaian tunggal atas persoalan perumahan yang menjadi latar sosial cerita.
Pada akhirnya, kisah musikal pejuang rupiah ini mengembalikan pertanyaan tentang rumah kepada penontonnya. Apa yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah, siapa yang membuat seseorang merasa pulang, dan apakah arti pulang yang dimiliki hari ini masih sama dengan yang pernah dibayangkan?
Pertunjukan Home Sweet Loan The Musical masih berlangsung hingga 18 Oktober 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Tiket tersedia melalui loket.com/homesweetloanthemusical, sementara informasi terbaru dapat diikuti melalui media sosial resmi @homesweetloanthemusical.

