Bukhere, Tradisi Warga Jayapura yang Perlahan Menghilang

Indonesian Journal, Jayapura — Hilangnya tradisi bukhere menjadi salah satu dampak nyata dari langkanya ikan asli di Danau Sentani, Papua. Bukhere adalah rumah ikan buatan warga yang dulu rutin digunakan untuk menangkap ikan. Kini, tradisi ini nyaris tidak lagi dipraktikkan warga sekitar danau.

Yanpit Wally, Ondofolo Kampung Nendali, menjelaskan cara kerja bukhere yang diwariskan leluhur. Warga membuatnya dari kayu, ranting, dan daun sagu yang disusun melingkar, lalu ditenggelamkan ke dasar danau. 

“Masyarakat nelayan pasang bukhere di danau. Kemudian lewat dari satu tahun, masyarakat akan panen ikan banyak,” ujarnya, seperti dikutip Mongabay Indonesia.

Praktik ini diatur oleh aturan adat dan menjadi bagian penting kehidupan warga Sentani. Namun seiring waktu, bukhere makin jarang dipasang karena ikan yang menjadi target utamanya makin sulit didapat.

Bernard Mebri, warga Kampung Yoka, masih ingat masa ketika ikan melimpah di Danau Sentani. 

“Dulu, kita hanya molo (menyelam) atau pancing saja bisa dapat banyak ikan dan cukup buat makan keluarga. Kalau sekarang ini susahnya kita dapat ikan,” kenangnya. 

Hilangnya tradisi bukhere berkaitan erat dengan dominasi ikan red devil di Danau Sentani. Penelitian Balai Karantina Ikan Jayapura pada 2016 mencatat kepadatan ikan invasif itu mencapai 70% dari hasil tangkapan. Nama lain dari Amphilopus labiotus ini memangsa telur dan anakan ikan asli, sehingga populasi ikan yang biasa tertangkap lewat bukhere ikut menyusut.

Keterkaitan Ikan dan Identitas Sentani

Tradisi yang telah mengakar lama ini bukan sekadar cara mencari pangan bagi warga Sentani. Ikan asli dan endemik juga melambangkan identitas budaya, mulai dari simbol adat ondofolo hingga motif ukiran kulit kayu tradisional.

Yanpit menegaskan keterkaitan erat antara ikan asli dan identitas masyarakatnya. “Tapi kita punya ikan-ikan asli ini semua hilang atau punah itu sama saja dengan identitas orang Sentani hilang,” katanya.

Ruben Sineri, Kepala Pelaksana Tugas Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jayapura, mengingatkan slogan “hidupku adalah budayaku” ikut terancam jika ikan endemik punah. Dua spesies ikan, yaitu hiu gergaji dan gete-gete, telah dinyatakan punah dari Danau Sentani.

Suriani Surbakti, peneliti Universitas Cenderawasih, menegaskan hilangnya ikan asli bukan hanya persoalan keanekaragaman hayati. 

“Kalau ikan asli dan endemik semakin sulit ditemukan, persoalannya bukan hanya mengenai keanekaragaman hayati, juga berkaitan dengan budaya,” ujarnya, seperti dikutip Mongabay Indonesia.

Pemulihan populasi ikan asli berpotensi membuka peluang menghidupkan kembali tradisi bukhere. Menjaga Danau Sentani berarti menjaga ikan sekaligus menjaga warisan budaya yang bergantung padanya.

Community Podcast

Latest articles

Related articles