Prinsip Ekonomi Sirkular, Strategi 9R, dan Target Indonesia 2045

Indonesian Journal, Jakarta — Ekonomi sirkular adalah model ekonomi baru yang meminimalkan penggunaan sumber daya alam secara sistemik. Model ekonomi terkini mendesain produk agar bertahan lama serta mengembalikan sisa produksi dan konsumsi ke rantai nilai.

Selama ini, model ekonomi linear berjalan lewat pola ekstraksi, produksi, konsumsi, dan pembuangan. Setiap produk yang dikonsumsi akhirnya berakhir sebagai limbah tanpa mekanisme pemulihan nilai material.

Pola lama linear menekan ketersediaan sumber daya alam secara terus-menerus. Akibatnya, model tersebut berkontribusi signifikan terhadap degradasi lingkungan dan peningkatan emisi Gas Rumah Kaca atau GRK.

Ekonomi sirkular hadir berdasarkan tiga prinsip utama. Prinsip tersebut meliputi eliminasi limbah dan pencemaran, menjaga sumber daya dalam siklus ekonomi selama mungkin, serta membangun ekosistem yang regeneratif.

Penerapan Ekonomi Sirkular

Penerapan ekonomi sirkular dioperasionalkan lewat kerangka sembilan strategi berjenjang yang disebut 9R. Semakin rendah nomor strategi, semakin besar potensi pengurangan dampak lingkungan yang dapat dicapai.

Kelompok pertama disebut Ciptakan Nilai, mencakup R0 Refuse, R1 Rethink, dan R2 Reduce. Tiga strategi ini berada di posisi intervensi paling awal sebelum produk benar-benar diproduksi atau dikonsumsi.

Kelompok kedua disebut Pertahankan Nilai, meliputi R3 Reuse, R4 Repair, R5 Refurbish, R6 Remanufacture, dan R7 Repurpose. Lima strategi ini berfokus memperpanjang usia pakai produk yang sudah beredar.

Kelompok ketiga disebut Pulihkan Nilai, terdiri dari R8 Recycle dan R9 Recover. Dua strategi ini menjadi upaya terakhir sebelum material benar-benar berakhir di tempat pembuangan.

Rencana Pembangunan Ekonomi Sirkular Indonesia

Di Indonesia, ekonomi sirkular telah diintegrasikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional atau RPJPN 2025-2045. Pemerintah menyusun Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular, disingkat RAN-ES, sebagai acuan transisi menuju model ini.

RAN-ES berfokus pada lima sektor prioritas yang dipilih berdasarkan potensi ekonomi dan sirkularitas. Kelima sektor tersebut adalah Pangan, Tekstil, Konstruksi, Retail dengan fokus kemasan plastik, dan Elektronik.

Pemerintah menetapkan target lewat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN 2025-2029. Indikator Tingkat Input Material Sirkular ditarget naik bertahap dari 9,2 persen pada 2025 menjadi 10 persen pada 2029.

Capaian terkini menunjukkan tingkat input material sirkular berada di angka 9,2 persen. Perlu dicatat, angka ini masih berstatus estimasi sementara, bukan data final yang telah terverifikasi penuh.

Penerapan ekonomi sirkular diproyeksikan memberi manfaat ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Potensi peningkatan Produk Domestik Bruto atau PDB pada 2030 diperkirakan mencapai Rp593 triliun.

Selain itu, penerapan ekonomi sirkular diperkirakan mampu mengurangi timbulan sampah hingga sekitar 18 persen pada 2030. Dua indikator manfaat lain, yakni penurunan emisi GRK dan penciptaan lapangan kerja hijau, turut menjadi bagian dari proyeksi dampak positif ini.

Memahami prinsip dan strategi 9R dapat menjadi langkah awal pembaca mendukung transisi ekonomi sirkular. Penerapan sederhana seperti mengurangi konsumsi, memperbaiki barang, dan mendaur ulang turut berkontribusi pada target besar Indonesia menuju 2045.

Community Podcast

Latest articles

Related articles