Belajar dari Kebakaran TPA Jatibarang: Peran Sampah Dapur dan Pentingnya Pengelolaan dari Rumah

Indonesian Journal, Semarang – Peristiwa kebakaran yang melanda TPA Jatibarang mengingatkan kita pada pentingnya pengelolaan sampah. Meski dalam siaran pers BNPB penyebab kebakaran hingga 1 Oktober 2026 masih dalam penyidikan, petugas Damkar mengungkapkan bahwa keberadaan gas metana menjadi salah satu hambatan dalam proses pemadaman.

Seperti yang kita tahu bersama, gas metana merupakan gas yang mudah terbakar. Pada konsentrasi tertentu ketika bercampur dengan udara, gas ini berpotensi meledak apabila ada sumber api. Lantas, bagaimana sampah organik yang kita buang dari dapur dapat menghasilkan metana, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi pembentukannya di TPA?

Berdasarkan informasi dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), gas metana terbentuk ketika sampah organik, termasuk sisa makanan dari dapur rumah tangga, tertimbun dan terurai dalam kondisi minim oksigen. Kondisi ini membuat mikroorganisme penghasil metana menguraikan bahan organik dan menghasilkan gas metana.

Karena itu, mengurangi sampah organik yang masuk ke TPA dapat membantu menekan pembentukan metana. Berdasarkan panduan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), langkah sederhana seperti berbelanja sesuai kebutuhan, menyimpan makanan dengan baik, memanfaatkan sisa makanan yang masih layak, serta mengomposkan sisa organik dapat mengurangi sampah dari rumah tangga.

Perlu diingat, proses fermentasi ini menghasilkan gas yang dapat meningkatkan tekanan di dalam wadah. Jika dibiarkan menumpuk tanpa pelepasan gas, tekanan tersebut dapat menyebabkan wadah menggelembung, tutup terlontar, atau wadah menjadi pecah.

Dalam artikel BINUS Research dijelaskan bahwa wadah perlu menyisakan ruang kosong sekitar 30 persen dari volumenya untuk menampung gas fermentasi. Di samping itu, tutup wadah yang digunakan tidak boleh ditutup terlalu rapat sebab nantinya akan menimbulkan tekanan berlebihan dan wadah bisa pecah.

Namun, jika pengomposan dan pembuatan eco-enzyme masih terasa merepotkan, langkah awal bisa dimulai dengan mengurangi sisa makanan. Belanja sesuai kebutuhan, simpan bahan pangan dengan baik, dan olah bahan yang masih layak sebelum membusuk.

Lalu, sampah organik yang tersisa dapat dipilah dan disalurkan ke komunitas pengomposan atau layanan pengolahan sampah organik di sekitar tempat tinggal. Pastikan untuk memilah sampah sesuai jenisnya agar pengelolaannya nanti dapat berjalan optimal.

Langkah ini sejalan dengan gerakan “Semarang Wegah Nyampah” yang didorong Pemerintah Kota Semarang. Melalui gerakan ini, edukasi masyarakat, dan penguatan bank sampah, pemerintah mengajak warga mengubah kebiasaan pengelolaan sampah rumah tangga.

Walaupun gerakan ini tidak hanya mencakup sampah organik saja, pemilahan sisa makanan dari rumah dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang dibangun. Dengan melakukan pilah-pilih sampah ini, masyarakat dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Peran serta warga sangat krusial, sebagaimana ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat dalam kunjungannya ke tempat pengolahan sampah organik di Bulusan, Semarang, pada 2 Juni 2026. “Kami lebih optimis target pengelolaan sampah nasional bisa tercapai jika dibangun melalui semangat dari bawah,” kata Jumhur, sebagaimana dimuat dalam laman resmi Pemkot Semarang.

Dengan begitu, sampah yang masih dapat diolah tidak langsung menumpuk di TPA, tetapi dapat dimanfaatkan kembali. Jika dilakukan secara konsisten dan didukung pengolahan yang tepat, gerakan ini dapat mengurangi beban TPA sekaligus menekan potensi pembentukan metana dari sampah organik yang tertimbun.

Community Podcast

Latest articles

Related articles