Indonesian Journal, Jakarta — Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam industri kreatif dan masa depan sastra global, Presiden Akademi Goncourt, Philippe Claudel, justru melontarkan pernyataan yang memancing diskusi baru. Ia menegaskan bahwa karya sastra tidak bisa direduksi menjadi produk teknologi semata.
“It is not a literature when an author uses AI for their work, (bukan sebuah karya literatur ketika seorang penulis menggunakan AI untuk karyanya-terj)”, ucap Philippe, di Institut français d’Indonésie (IFI), kemarin (12/5/2026)
Pernyataan itu menanggapi fenomena munculnya penulis-penulis yang memanfaatkan penggunaan AI dalam penulisan karya sastra, baik konvensional maupun digital. Di saat sebagian industri melihat AI sebagai alat efisiensi, Philippe justru menempatkan sastra dalam ruang orisinalitas. Menurutnya, sastra adalah ruang yang lahir dari pengalaman manusia, emosi, dan relasi sosial yang tidak bisa digantikan mesin.
Peluncuran Choix Goncourt Indonesia sendiri menjadi bagian dari penguatan hubungan sastra Prancis dan Indonesia melalui pembaca muda. Program ini membawa format penghargaan sastra bergengsi Prix Goncourt ke Indonesia dengan melibatkan mahasiswa berbagai kampus sebagai dewan juri pembaca.
Indonesia kini bergabung dalam jaringan Choix Goncourt Asia bersama South Korea, China, Vietnam, India, dan Turkey. Dalam waktu dekat, Kamboja juga dijadwalkan bergabung pada November mendatang. Philippe menyaksikan bahwa ketertarikan Indonesia untuk bergabung karena kuatnya keinginan generasi mudanya untuk saling memahami melalui sastra dan pertukaran gagasan.

“Keikutsertaan Indonesia ke dalam Choix Goncourt bukan dilihat dari sisi demografi, ekonomi, maupun sosial-politik,” terangnya saat sesi diskusi Kafe-Sastra, yang diterjemahkan dari penuturannya dalam bahasa Perancis.
Dalam sesi Kafe-Sastra tersebut, sekitar tujuh dari 13 juri hadir. Mereka terdiri mahasiswa Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Sebelas Maret, hingga Universitas Negeri Medan. Pembahasan yang turut menjabarkan teknis dan mekanisme seleksi empat buku novel berbahasa perancis, justru membuka diskursus penggunaan AI dalam karya sastra.
AI dalam Sastra yang Masih Jadi Perdebatan Global
Philippe Claudel memahami bahwa pengguna AI dapat menciptakan karya sastra berdasarkan gaya bahasa penulis lain. Pada titik tersebut, novelis sekaligus sutradara itu skeptis atas sisi orisinalitas dunia industri dan sastra global ketika bercampur dengan teknologi artificial intelligent.
Sebenarnya, perdebatan terkait penggunaan AI dalam sastra terus berkembang seiring cepatnya perkembangan teknologi tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah penerbit global mulai memakai kecerdasan buatan untuk membantu penerjemahan, penyuntingan, hingga pengembangan ide cerita. Namun banyak penulis dan akademisi mempertanyakan batas etis penggunaannya karena dianggap berisiko menghilangkan pengalaman personal yang menjadi inti literatur.
Laporan UNESCO pada 2023 juga menyoroti pentingnya transparansi penggunaan AI generatif di sektor pendidikan dan budaya. Dalam konteks sastra, isu yang paling sering diperdebatkan mencakup hak cipta, orisinalitas karya, hingga potensi hilangnya identitas penulis akibat dominasi teknologi generatif.
Di sisi lain, sebagian pelaku industri melihat AI sebagai alat bantu kreatif yang memecah kebuntuan ide (writter’s block). Penulis seperti Rie Qudans, Stephen Marche, Vauhini Vara, dan lainnya mengakui adanya peran AI di dalam karya mereka. Para penulis menyebutnya sebagai metode “Centaur Writing”, dimana kalkulasi AI digabungkan dengan intuisi manusia untuk menciptakan karya sastra.
Adaptasi Sastra ke Sinema Jadi Penutup
Selain peluncuran Choix Goncourt Indonesia, IFI juga menggelar diskusi “dari kata ke sinema” yang membahas hubungan antara sastra dan industri film Indonesia. Diskusi ini menghadirkan sejumlah nama terkenal seperti Ratih Kumala, Reda Gaudiamo, Ryan Adriandhy, Laksmi Pamuntjak.

Jika Kafe-Sastra diselenggarakan secara eksklusif dan terbatas, diskusi “dari kata ke sinema” terbuka untuk umum dan mendapat sambutan meriah pengunjung anak muda. Antusiasme mereka tampak dari banyaknya pertanyaan yang seluruhnya tidak dapat ditampung oleh Hannah Al Rashid, sebagai moderator.
“Butuh 5 tahun untuk membentuk karakterk Na Willa,” ungkap Reda Gaudiamo saat menjawab pertanyaan. Hal ini mengungkapkan bahwa ide dan karya sastra membutuhkan waktu, baik dalam hal riset hingga pembentukan karakter.
Forum tersebut membahas bagaimana adaptasi novel ke layar lebar kini menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem literasi dan industri kreatif Indonesia. Dari “Gadis Kretek” hingga “Aruna dan Lidahnya”, karya sastra sejatinya tidak lagi berhenti di halaman buku. Dengan adanya teknologi AI dalam sastra, ruang diskusi sangat terbuka lebar untuk memenuhi kebutuhan penikmat sastra dan orisinalitas kepenulisan.
