IndonesianJournal.id, Jakarta –Â Kawasan Ampera, Jakarta Selatan, mendadak menjadi titik kumpul para legenda dan penggerak industri musik tanah air pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, diskusi bertajuk “Beda Masa Satu Rasa” digelar sebagai bentuk selebrasi bermakna menyambut Hari Musik Nasional.
Acara yang diinisiasi oleh sosok visioner Peter F. Momor bersama penyanyi legendaris Connie Constantia ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Diskusi ini menjadi ruang dialektika untuk membedah bagaimana musik Indonesia tetap memiliki “rasa” yang kuat meski zaman terus berganti.
Menyatukan Visi di Tangan Para Maestro
Gagasan “Beda Masa Satu Rasa” muncul dari kesadaran bahwa industri musik memerlukan jembatan komunikasi yang kokoh antara para pendahulu yang membangun fondasi dengan generasi yang kini berlari di era digital.
Kehadiran Connie Constantia sebagai tuan rumah sekaligus penggagas memberikan energi nostalgik yang kuat, sementara Peter F. Momor memastikan alur diskusi tetap tajam dalam memandang masa depan ekosistem musik kita.
Daftar Hadir Tokoh Kunci Industri Musik
Tidak main-main, deretan nama yang hadir di Ampera kemarin merupakan representasi dari berbagai lini industri musik, mulai dari musisi, promotor, hingga pengamat:
-
Giring Ganesha: Mewakili suara musisi yang juga aktif di ranah publik.
-
Harry Koko Santoso: Promotor kawakan yang memahami seluk beluk panggung pertunjukan.
-
Oleg Sanchabakhtiar: Sutradara visual yang telah mempercantik estetika musik Indonesia selama puluhan tahun.
-
Gideon Momongan: Pengamat musik senior dengan perspektif kritikalnya.
-
Tony Tsa, Firdaus Fadil, Jimmy Turangan, Liza Maria, dan Erby Dwitoro: Para praktisi dan pecinta musik yang turut memberikan warna dalam diskusi ini.
Semangat Hari Musik Nasional: Dari Diskusi ke Aksi
Dalam diskusi tersebut, poin utama yang disoroti adalah bagaimana menjaga kualitas karya agar tetap “berasa” di tengah gempuran tren yang cepat berlalu. Para tokoh yang hadir sepakat bahwa teknologi boleh berubah—dari pita kaset ke streaming—namun esensi kejujuran dalam berkarya tetap menjadi kunci utama.
“Musik adalah bahasa rasa. Mau diciptakan di era 80-an atau era AI sekarang, kalau rasanya sampai ke hati. Di akan abadi,” tutur salah satu perserta dalam sesi sharing.
Pertemuan di Ampera ini juga menjadi pengingat menjelang Hari Musik Nasional bahwa kolaborasi adalah harga mati. Tidak ada lagi sekat antara “senior” dan “junior”, yang ada hanyalah satu rasa untuk kemajuan musik Indonesia.
Kesimpulan: Warisan untuk Masa Depan
Acara “Beda Masa Satu Rasa” ditutup dengan optimisme tinggi. Inisiatif dari Peter F. Momor dan Connie Constantia ini diharapkan menjadi momentum tahunan yang konsisten dalam mengawal pertumbuhan industri kreatif di tanah air.
Bagi para penikmat musik, pesan dari pertemuan ini sangat jelas: Hargai prosesnya, cintai karyanya, dan terus dukung musisi lokal agar musik Indonesia tetap berdaulat di negeri sendiri.


