Dengan Pendekatan AI, Galeri Indonesia Kaya Ungkap Cerita di Balik Kemegahan Borobudur

Indonesian Journal, Jakarta – Borobodur, dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi di masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Kemegahan candi yang merupakan candi Buddha terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah hingga sekarang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang sekedar melihat, berfoto, bahkan untuk melakukan penelitian terkait peninggalan sejarah. Meski alasan penelitian ini sangat jarang dilakukan pengunjung.

Tidak ingin Borobodur hanya jadi objek wisata semata, Galeri Indonesia Kaya yang bekerjasama dengan Bening Digital Indonesia dan Curaweda menghadirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, yang mulai dibuka untuk umum sejak Selasa (1/9), di Galeri Indonesia Kaya.

Menandai dimulainya instalas Purwacarita Borobudur ini, Renitasari Adrian selaku Program Director Galeri Indonesia Kaya, mengungkapkan “Sebagai ruang publik edutainment yang memadukan edukasi, teknologi digital, dan inovasi, Galeri Indonesia Kaya berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia dengan cara menyenangkan dan kekinian. Melalui Purwacarita Borobudur, kami menghadirkan kembali kisah dan sejarah Borobudur melalui pengalaman imersif berbasis Ethical AI dan kolaborasi lintas disiplin.
Kami ingin sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat dirasakan dan dieksplorasi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini. Bagi kami, melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan cerita, nilai, dan identitas di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.”

Pada dinding Borobudur menyimpan beragam kisah tentang asal mula pembangunannya, tokoh-tokoh di baliknya, serta pesan yang tertuang dalam ribuan panel relief. Purwacarita Borobudur membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami kisah tersebut, baik sebagai bekal sebelum berkunjung langsung ke Borobudur maupun sebagai kesempatan untuk menemukan kembali makna relief, arsitektur, dan cerita yang telah mereka saksikan.

Bersama Bening Bening Digital Indonesia dan Curaweda, Galeri Indonesia Kaya lewat Purwacarita Borobudur menjadikan riset dan fakta sejarah yang telah tervalidasi sebagai pijakan utama dalam membangun narasinya. Pengunjung diajak menyelami asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra, sebagaimana disebut dalam prasasti kuno, sekaligus mengenal kemegahan kosmologi Candi Borobudur melalui berbagai bentuk interaksi. Dengan memadukan proyeksi visual dan teater imersif, relief-relief batu yang selama berabad-abad menjadi bagian dari Candi Borobudur dituturkan kembali menjadi rangkaian adegan yang dapat disaksikan, dieksplorasi, dan dirasakan secara langsung.

Dalam pengembangannya, Purwacarita Borobudur menggunakan Ethical AI sebagai kerangka kerja untuk menerjemahkan riset dan fakta ke dalam pengalaman imersif. Kecerdasan buatan diposisikan sebagai alat bantu visualisasi, dengan akurasi sejarah tetap menjadi landasan utama karya ini. Seluruh data sejarah dan narasi dialog yang bersumber dari prasasti, termasuk Prasasti Karangtengah (824M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M), hingga penggambaran busana dan artefak, telah melalui proses kurasi dan penyuntingan. Setiap naskah, visual, detail busana, dan arsitektur yang ditampilkan juga melewati validasi akademik oleh Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Gadjah Mada serta validasi profesional oleh Museum dan Cagar Budaya. Tim kreatif turut melakukan kunjungan lapangan ke Borobudur sebagai rujukan visual.

“Bagi kami di Curaweda, teknologi bukanlah tujuan akhir. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli. Melalui Purwacarita Borobudur, kami ingin menunjukkan bahwa AI dapat digunakan secara etis untuk memperkuat riset sekaligus menghadirkan kekayaan budaya Nusantara dalam cara yang lebih dekat dengan generasi muda. Berkolaborasi dengan Galeri Indonesia Kaya, kami menghadirkan sejarah Borobudur bukan lagi semata sebagai cerita di buku, tetapi sebagai pengalaman visual yang memungkinkan pengunjung menelusuri lorong waktu, berinteraksi, dan menggali nilai serta pesan moral yang terkandung di dalamnya,” ujar Azhar Muhammad Fuad, Founder dan CEO Curaweda.

Pendekatan teknologi tersebut tetap diimbangi dengan proses kurasi yang ketat untuk memastikan setiap informasi yang dihadirkan memiliki dasar sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, Dr. Sri Margana, M.Phil., kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Purwacarita Borobudur merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan perspektif budaya, riset, teknologi, dan pengembangan bisnis. Dalam proses pengembangannya, Bening Digital Indonesia berperan sebagai business consultant yang berkolaborasi dengan Curaweda dan Galeri Indonesia Kaya untuk mengembangkan karya imersif berbasis AI yang tetap berpijak pada riset dan akurasi sejarah.

Hasilnya, pengunjung dapat mengikuti kisah hukum sebab-akibat atau karma melalui relief Karmawibhangga, serta kisah cinta dan kesetiaan Pangeran Sudhana dan Putri Manohara melalui relief Avadana. Pengalaman ini juga menghadirkan dua tokoh dari Wangsa Sailendra, yaitu Raja Samaratungga dan Putri Pramodhawardhani, untuk membawa pengunjung mengenal keseharian dan visi di balik
pembangunan hingga peresmian Candi Borobudur.

Community Podcast

Latest articles

Related articles