Hijab Lungsuran, Cara Diam-Diam Hijabers Kurangi Limbah Tekstil Indonesia

Indonesian Journal, Jakarta — Sebuah hijab tidak selalu berakhir di tempat sampah ketika pemiliknya memutuskan tidak lagi memakainya. Di banyak situasi, pakaian masih dapat berpindah tangan, digunakan kembali, atau disalurkan sebelum akhirnya benar-benar menjadi limbah.

Praktik semacam itu dikenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai “lungsuran”. Pemilik pertama tidak lagi menggunakan busana tersebut, tetapi kondisinya masih memungkinkan untuk dipakai orang lain.

Dalam kajian sustainable fashion, praktik transfer kepada orang lain dapat menjadi salah satu cara memperpanjang masa penggunaan outfit. Penelitian Mentari Evra Riselanov dan Ardy Aprilian Anwar dalam e-Proceeding of Art & Design Telkom University pada 2020, misalnya, memasukkan lungsuran sebagai salah satu aktivitas yang dapat memperpanjang usia pakaian.

Namun, lungsuran bukan otomatis solusi bagi persoalan limbah tekstil. Ia hanyalah salah satu mata rantai reuse, yang berjalan bersama praktik lain seperti donasi, redistribusi komunitas, hingga daur ulang ketika pakaian sudah tidak lagi layak digunakan. Hal ini juga berlaku pada produk hijab.

Dari Lemari ke Meja Makan Keluarga

Hijab lungsuran bagi LY merupakan hal yang personal. Pegawai negeri sipil itu memberikan hijab yang tidak lagi digunakan kepada kerabat keluarga bukan bagian dari strategi keberlanjutan. Ia melakukannya karena wardrobe tersebut nilainya masih layak dan sayang jika tidak digunakan.

“Seringnya memberikan hijab yang sudah tidak terpakai tapi masih layak ke keluarga,” kata PNS di lingkungan istana cipanas itu.

Alasannya sederhana.

“Sayang aja, karena udah nggak kepakai lagi,” katanya lagi.

(Ilustrasi) Hijab lungsuran sesama hijabers.
(Ilustrasi) Hijab lungsuran sesama hijabers. Sumber : Pexels-Harmoni Pictura

Dalam praktik tersebut, keputusan untuk tidak membuang sehelai kain itu muncul bukan karena istilah circular economy atau sustainable fashion. Ada pertimbangan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu memanfaatkan barang bagus yang tidak terpakai untuk orang lain yang mungkin masih membutuhkannya.

Di sinilah “hijab lungsuran” menarik dilihat sebagai praktik reuse. Sebuah hijab yang berhenti digunakan oleh satu orang belum tentu berhenti memiliki fungsi.

Tetapi ada batasnya. Pemberian kepada keluarga hanya memperpanjang usia pakaian apabila penerima benar-benar menggunakan barang tersebut. Jika ukuran, warna, model, atau kondisinya tidak sesuai, produk fesyen tetap dapat berakhir sebagai limbah.

Ketika Hijab Lungsuran Berpindah dari Keluarga ke Komunitas

Pola pemindahan pakaian, khususnya hijab ini juga dapat bergerak ke luar lingkaran keluarga.

NAD dari Hijabersmom Community mengatakan dirinya tidak secara khusus mengikuti atau mencari hijab lungsuran. Ketika memiliki kebutuhan terhadap hijab, ia lebih mempertimbangkan keterbaruan produk, ukuran dan kesesuaiannya.

“Tidak ada ukuran saya, tidak cocok dengan kebutuhan saya, jadi tidak pernah kepoin,” ujarnya ketika ditanya mengenai hijab yang diperkenalkan sebuah merek modest wear.

Di tingkat komunitas, mekanismenya berbeda. Hijabersmom Community merupakan organisasi perempuan Muslim yang berkembang di sekitar 40 kota di Indonesia. Komunitas tersebut juga memiliki pengalaman menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Pola tersebut memperlihatkan perbedaan antara lungsuran keluarga dan redistribusi berbasis komunitas. Pada tingkat pertama, wardrobe berpindah karena hubungan personal. Pada tingkat kedua, barang dapat dikumpulkan dan disalurkan melalui jaringan yang lebih luas.

Keduanya memiliki satu kesamaan, dimana produk fesyen tidak berhenti pada pemilik pertamanya.

Ketika Pakaian Berpindah dalam Skala Korporasi

Logika pemindahan wardrobe (termasuk dalam hal ini hijab) juga muncul dengan skala yang jauh lebih besar, meskipun bentuknya tidak lagi tepat disebut lungsuran. UNIQLO Hijab sendiri hadir dalam tiga varian, AIRism Proteksi Sinar UV, Satin, dan Georgette, yang dirancang untuk kebutuhan sehari hari perempuan berhijab.

3 Varian UNIQLO Hijab
3 Varian UNIQLO Hijab

Pada Agustus 2026, UNIQLO bersama Kitabisa menjalankan program “Satu untuk Seribu”. Program tersebut mengalokasikan Rp1.000 dari setiap transaksi untuk mendukung 1.000 guru honorer.

Program itu juga menghasilkan dukungan berupa Rp1 miliar dan 1.400 pakaian baru bagi 1.000 guru honorer. Pakaian dalam program tersebut merupakan barang baru, sehingga secara konseptual berbeda dari lungsuran pakaian bekas.

Perbedaannya penting. Tidak semua busana yang berpindah dari satu pihak kepada pihak lain dapat disebut lungsuran.

Dalam skala korporasi, praktik tersebut lebih tepat dibaca sebagai redistribusi atau donasi. Sementara di tingkat keluarga, produk fesyen berpindah melalui hubungan personal tanpa mekanisme organisasi formal.

Keduanya menunjukkan bahwa umur pakaian dapat diperpanjang melalui perpindahan tangan, tetapi dengan mekanisme yang berbeda.

Saat Reuse Tidak Lagi Bisa Dilakukan

Persoalan muncul ketika outfit sudah terlalu rusak untuk diberikan kepada orang lain.

Pada kondisi tersebut, pilihan berikutnya bukan lagi penggunaan ulang, melainkan pengolahan material.

Dalam salah satu kegiatan pengelolaan preloved, UNIQLO bekerja sama dengan PABLE Indonesia untuk mengolah 600 kilogram pakaian yang sudah tidak dapat digunakan kembali menjadi sekitar 3.600 meter kain daur ulang. Material tersebut kemudian digunakan untuk membuat tas sekolah bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.

Tahapan ini menunjukkan perbedaan penting dalam pengelolaan pakaian.

(Ilustrasi) daur ulang tekstil.
(Ilustrasi) daur ulang tekstil. Sumber : Pexels-Ron Lach

Ketika masih layak, outfit dapat digunakan kembali. Ketika tidak lagi relevan, outfit tersebut dapat berpindah tangan. Saat menunjukkan ketidaklayakan produk, material tekstil masih mungkin masuk ke proses daur ulang.

Dengan kata lain, perjalanan sebuah produk fesyen tidak harus berhenti ketika fungsi pertamanya berakhir.

Masalahnya Bukan Sekadar Membuang atau Tidak

Penelitian Aditya Pratama, Heri Iswandi, dan Keni Dion dalam Besaung: Jurnal Seni, Desain dan Budaya Universitas Indo Global Mandiri pada 2024 menemukan bahwa generasi Z masih cenderung memilih membuang pakaian daripada mencari cara untuk menggunakannya kembali. Penelitian tersebut juga menyoroti rendahnya kesadaran mengenai limbah tekstil dan praktik upcycling.

Temuan itu memberikan konteks penting bagi praktik lungsuran.

Kebiasaan memberikan preloved kepada orang lain memang dapat memperpanjang masa pakai, tetapi keberadaannya sangat bergantung pada kondisi produk tekstilnya dan kebutuhan si penerima. Tidak semua barang yang keluar dari lemari akan menemukan pemilik berikutnya.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah pakaian dibuang atau tidak. Pertanyaan yang lebih jauh adalah berapa lama pakaian tersebut dapat terus digunakan sebelum materialnya benar-benar kehilangan fungsi?

Di tingkat keluarga, jawabannya bisa berupa satu saudara yang menerima hijab dari saudara lainnya. Saat berada di komunitas, jawabannya bisa berupa redistribusi kepada kelompok yang membutuhkan. Di tingkat korporasi, jawabannya dapat berupa donasi atau program pengumpulan pakaian.

Ketika semua kemungkinan penggunaan kembali sudah tertutup, daur ulang menjadi pilihan berikutnya.

Hijab lungsuran dengan demikian bukan solusi tunggal untuk persoalan limbah tekstil. Ia adalah praktik sederhana yang sudah hidup dalam relasi sosial sehari-hari, sementara komunitas, organisasi, dan perusahaan memiliki mekanisme berbeda untuk memperpanjang atau mengalihkan fungsi pakaian.

Tantangannya adalah bagaimana berbagai praktik tersebut dapat terhubung. Sebab, sebelum sebuah pakaian menjadi limbah, selalu ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan, masih bisakah pakaian ini dipakai oleh orang lain?

Community Podcast

Latest articles

Related articles