Indonesian Journal, Jakarta – Dibintangi Hugh Jackman yang berperan sebagai Robin Hood, The Death of Robin Hood mulai didistribusian secera global pada Juni 2026. Film yang berlatar alam bebas dan perdesaan dengan nuansa ballad abad ke-17.
Tidak seperti film Robin Hood yang selama ini dikenal, yang identik dengan sosok kepahlawanan seorang laki-laki muda yang gesit dengan semangat melindungi orang-orang kecil dari ketidak adilan. Robin Hood yang digambarkan oleh penulis dan juga sutradara film ini, Michael Sarnoski, digambarkan sebagai lelaki tua yang sudah telah meninggalkan jejaknya sebagai pahlawan bagi masyarakat miskin, dan mengucilkan diri di pegunungan.
Kehadiran Little Jhon memaksa Robin Hood kembali mengangkat perangkat panahnya demi membantu sang teman menyelamatkan istri dan anak Little Jhon.
Film berdurasi 122 menit ini dibuka dengan adegan badai salju yang mengganas. Meski alur cerita berjalan lambat, namun adegan-adegan berikutnya digambarkan cukup tertata dan cukup detail dibeberapa bagian, sehingga mudah dimengerti ceritanya. Sehingga penggabaran sisi gelap seorang Robin Hood yang mengalami pergulatan batin tentang perjalanan hidupnya selama ini terekam cukup mempuni.
Adegan yang merekam lukisan alam Irlandia yang memanjakan mata, namun sekaligus merekam adegan-adegan terbilang sadis dengan cukup detail. Dua nuansa yang bertolak belakang dalam satu frame. Namun, beberapa adegan, termasuk adegan perkelahian diambil terlalu dekat, sehingga memburamkan objeknya, karena film ini didominasi suasana gelap.
Angel big clsed up menarik ketika merekam detail dari wajah seorang Robin Hood yang terkesan artistik dengan keriput-keriput pada wajah dan ekspresi yang memang seharusnya.
