Indonesian Journal, Jakarta – Gen Z sedang hobi mengejar “imperfection” dalam foto karena efek blur yang tidak disengaja justru dianggap lebih nyata, raw, dan memberikan kesan dinamis yang penuh cerita untuk konten media sosial. Seperti contohnya, kamera analog memberikan sentuhan dreamy lewat ritual pasang roll film yang mindful sampai hasilnya muncul. Sementara itu, digicam membawa vibe Y2K yang playful, pas banget buat momen hangout atau mirror selfie pakai flash ikonik yang artsy. Karakter warna yang unik dan elemen kejutan inilah yang selalu berhasil memberikan “nyawa” lebih buat setiap momen indah yang kamu abadikan.
Adi Rahardja, Senior Director of Business Development Shopee Indonesia, mengatakan “Tren foto kamera vintage lagi jadi salah satu cara bagi generasi muda untuk ciptakan momen terasa lebih punya karakter. Kami melihat tren ini hadir karena adanya keinginan untuk mencari cara yang lebih personal dalam mengabadikan momen. Tidak hanya dari hasil fotonya, tetapi juga dari pengalaman di baliknya. Proses yang dimulai dari memilih kamera, menentukan konsep, sampai melihat bagaimana setiap foto punya warna, mood, dan cerita yang berbeda. Di Shopee, pengguna dapat menemukan berbagai pilihan kamera analog, digicam, aksesori fotografi, sampai fashion item dari para brand lokal yang mampu temani perjalananmu merangkum banyak momen berharga.”
Bikin Galeri Kamu Jadi ‘Aesthetic’, Ini 5 Tips Ciptakan Foto Vintage yang Punya Cerita!
Sebelum mulai jepret, ada baiknya tentukan vibe foto seperti apa yang ingin dibangun. Supaya foto-foto jepretan kamu makin estetik dan slay, simak 5 tips foto dengan kamera vintage ala Shopee yang bisa kamu coba!
Pilih starter pack favorit
Sebelum mulai hunting, tentukan dulu tipe yang suka hasil foto lembut, warm, dan punya vibes cinematic ala potongan film indie, kamera analog adalah jalan ninjanya. Grain-nya yang dapet banget, tone warna yang nggak terduga, sampai excitement pas nunggu hasil cuci film itu bener-bener unmatchable.
Bikin moodboard biar isi galeri dan feed kamu bukan foto “asal jepret”
Mulai susun konsep sederhana sesuai mood yang ingin dibawa tanpa harus serumit photoshoot profesional. Bisa pilih tema weekend diary, city walk di area parkiran dan stasiun tua buat kesan nostalgia, atau cafe diary yang fokus ke momen candid pas lagi ngobrol.
Mainin flash dan angle yang “messy but aesthetic”
Kunci foto vintage itu ada di cahaya dan angle yang nggak kaku biar hasilnya makin stunning. Buat analog, manfaatin golden hour biar warna kulit kelihatan glowing natural, tapi kalau pakai digicam, Flash is Your Way karena efek harsh justru bikin foto terlihat makin edgy. Lupain aturan rule of thirds yang mainstream dan coba ambil angle unik kayak dari bawah atau lewat pantulan cermin.
Siapkan OOTD harus on point biar match sama vibes-nya
Pilihan outfit itu penentu utama apakah foto bakal slay atau flop, jadi pastikan baju yang pakai nyambung sama narasi yang ingin dibangun. Buat nuansa analog yang timeless, bisa pakai warna bumi seperti ivory atau washed denim agar terlihat menyatu sempurna dengan latar belakang nostalgic.
Pilih aksesori yang tepat bisa jadi game changer agar kamera tetap aman sekaligus tampil lebih estetik saat hunting foto. Mulai dari pasang strap kamera, nempelin stiker dan gantungan imut, hingga nyimpen kamera vintage favorit di dalam pouch kamera yang lucy!
Jangan lupa kasih touch-up gemas pakai Hippers Cute Digicam dari FILMONKISH dan pastikan kamera tetap aman terlindungi dengan Lumina Camera Pouch dari Eiger atau Camera Pouch dari Kee. Dengan pilihan produk beragam mulai dari baterai cadangan sampai aksesori pendukung lainnya, kamu bisa lebih bebas ngebangun konsep foto yang sesuai karakter kamu banget biar hasilnya makin chef’s kiss!
“Tren foto dengan kamera vintage menunjukkan bahwa kreativitas pengguna terus berkembang, termasuk dalam cara mereka mengabadikan momen sehari-hari. Shopee akan terus mendukung kebutuhan dan inspirasi gaya hidup pengguna dengan menghadirkan lebih banyak pilihan produk yang berkualitas dengan membantu mereka mengekspresikan diri secara lebih kreatif.” tutup Adi Rahardja.
