Indonesian Journal, Malang – Yayasan Jantung Indonesia (YJI) resmi meluncurkan program nasional skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) pada anak-anak usia sekolah dasar. Peluncuran program ini ditandai dengan kegiatan kick-off yang berlangsung di Kota Batu dan Kabupaten Malang pada 29–30 Mei 2026.
Ketua Bidang Medis sekaligus Project Director Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K) menyatakan bahwa “Data hasil skrining akan kami analisis secara komprehensif dan publikasikan dalam jurnal ilmiah mengenai tren penyakit jantung anak di Indonesia yang akan menjadi rujukan penting dalam konferensi jantung internasional. Temuan ini akan menjadi dasar ilmiah untuk rekomendasi kebijakan skrining jantung wajib di sekolah-sekolah Indonesia.”
Sementara itu, Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Project Leader Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia menyatakan bahwa “Program ini merupakan titik balik dalam upaya nasional melawan silent killer yang mengancam generasi penerus bangsa. Dengan deteksi dini yang terbukti mampu mengurangi beban penyakit hingga 80%, kami berkomitmen menjangkau anak-anak paling rentan di daerah yang paling membutuhkan. Ini bukan hanya tentang pemeriksaan kesehatan, tapi tentang menyelamatkan masa depan Indonesia.”
Untuk memastikan keberhasilan program ini, YJI juga menggandeng Perkumpulan Ahli Teknisi Kardiovaskuler (PATKI) sebagai mitra teknis.
Program nasional ini didukung oleh alat ultrasound portabel Lumify dari Philips Foundation melalui kemitraan strategis dengan World Heart Federation (WHF). Skrining akan menjangkau sekitar 8.000 anak usia Sekolah Dasar di empat kota prioritas, yaitu: Malang, Bekasi, Tulang Bawang (Lampung), dan Minahasa Utara.
Setiap kegiatan skrining juga menghadirkan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah untuk memberikan edukasi kepada para guru, orang tua, dan wali murid. Materi yang disampaikan meliputi Penyakit Jantung Rematik (PJR) dan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Tujuannya adalah agar orang dewasa di sekitar anak dapat mengenali gejala awal, memahami pentingnya pencegahan, serta segera mengambil tindakan medis jika dibutuhkan. Sebab, peran aktif guru dan orang tua sangat krusial dalam mendeteksi keluhan anak sejak dini dan mendampingi mereka menjalani pengobatan secara berkelanjutan.
“Mari bersama kita jadikan momentum ini sebagai awal perubahan nyata. Setiap detak jantung anak Indonesia adalah tanggung jawab kita semua. Dengan deteksi dini, kita bisa selamatkan ribuan nyawa dan masa depan bangsa”, tutup Iwet.
