Kolaborasi Aston Priority Simatupang & Acaraki Jadikan Jamu Minuman Kekinian

Indonesian Journal, Jakarta – Jamu, minuman tradisional Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan di UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Minum jamu menjadi tradisi yang menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun yang berkhasiat untuk menjaga kesehatan tubuh dan pemulihan stamina.

Sayangnya meski sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO bukan berarti membuat masyarakat, terutama generasi muda tetap setia dengan minuman merupakan rebusan beberapa rempah dan dedaunan. Sehingga tradisi sehat seakan mulai tergerus dengan perubahan jaman. Dengan alasan rasa dan aroma yang tidak enak, orang-orang lebih memilih minuman kekinian yang rasa dan tampilannya lebih menarik.

Acaraki, sebuah cafe yang fokus menghadirkan jamu dengan penyajian kekinian. Sehingga menikmati jamu tidak lagi dengan rasa tidak enak, tapi juga dengan tampilan yang juga menarik layaknya minuman ringan yang sering ditawarkan di cafe-cafe.

“Kalau di coffee shop kita kenal barista, dan yang meracik minuman di bar disebut bartender. Nah, yang meracik jamu disebut acaraki,” jelas tim dari Acaraki pada momen The Art of Jamu yang diadakan di Kencana Lounge, Aston Priority Simatupang, Kamis (27/8).

The Art of Jamu merupakan kolaborasi Acaraki dan Aston Priority Simatupang dalam upaya memberikan pengalaman berbeda saat meminum jamu.

“Seperti halnya kopi, jamu yang kami sajikan hasil pengolahan yang sama kayak proses seduh kopi. Dengan alat yang juga sama, seperti espresso machine, French press, hingga V60 dripper. Ini tidak mempengaruhi manfaat dari jamu, tapi justru memberi nilai lebih,” tutur tim Acaraki lagi.

Pada penyajiannya untuk tamu di Aston Priority Simatupang, setiap jenis jamu akan dibarengin dengan kudapan tradisional yang dibuat khusus untuk menemani jamu yang dipesan.

Menurut apa yang di katakan oleh Director of Sales & Marketing ASTON Priority Simatupang, Edo Damara, akan ada tiga kreasi jamu yang kini menjadi menu andalan yang ditawarkan di Kencana Lounge.

“Tiga menu ini sudah tersedia sejak Agustus 2026 sampai periode yang belum ditentukan. Kita juga provide jamu ini untuk tamu MICE saat coffee break,” ujar Edo.

Ketiganya adalah Kuteja yang merupakan paduan dari kunyit, temulawak, dan jahe. Minuman ini memiliki rasa yang cenderung pahit, tetapi menghadirkan aroma rempah yang cukup kuat dan khas.

Kemudian, Golden Sparkling, yang memadukan kunyit dan asam jawa dengan sparkling water. Perpaduan tersebut memberikan sensasi menyegarkan dengan sedikit efek soda di lidah.

Dan terakhir, Moringacha, minuman berbahan bubuk daun kelor yang diseduh menggunakan air panas kemudian dipadukan dengan susu. Konsep penyajiannya menyerupai matcha, dengan tekstur creamy dan rasa yang cenderung manis sehingga tidak terlalu terasa pahit.

Melalui The Art of Jamu, jamu tidak hanya diperkenalkan sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia dan gastronomi Nusantara yang dapat dinikmati dengan cara lebih modern.

Community Podcast

Latest articles

Related articles