IndonesianJournal.id, Jakarta – Hari Raya Idulfitri 1447 H akan segera dirayakan oleh segenap umat Islam di dunia. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu ada sebagian umat Islam yang merayakan Hari Raya Idulfitri lebih awal dari pada umat Islam kebanyakan. Mereka adalah jamaah Tarekat Naqsyabandiyah, yang kalau di Indonesia memiliki jamaah terbesar di Sumatera Barat.
Jamaah Tarekat Naqsyabandiyah, yang sering kali menetapkan 1 Syawal beberapa hari lebih awal dari keputusan Sidang Isbat Pemerintah. Jadi penasaran ga sih dengan siapa sebenarnya mereka? Mengapa metode penetapan lebarannya berbeda, dan apa rahasia di balik tradisi zikir sunyi mereka yang masyhur?
Tim redaksi Indonesian Journal merangkum dari berbagai sumber untuk mengenal lebih dekat Tareka Naqsyabandiyah.
Silsilah Suci: Menyambung ke Abu Bakar Ash-Shiddiq
Di Indonesia, aliran ini telah berakar selama berabad-abad, menjadi pilar tasawuf yang sangat dihormati karena kedisiplinannya dalam menjaga kemurnian syariat Islam.
Zikir Sirri: Seni “Mengukir” Nama Tuhan dalam Diam

Filosofinya sangat mendalam: tangan boleh sibuk dengan urusan dunia (bekerja/berkarya), namun hati tetap terpaut (berzikir) kepada Sang Pencipta. Metode ini dianggap sebagai latihan keikhlasan tingkat tinggi agar ibadah tidak terjebak pada sifat pamer (riya).
Meski menantang karena risiko rasa kantuk yang tinggi, para jamaah menggunakan teknik pernapasan khusus untuk menjaga kesadaran tetap utuh selama berjam-jam dalam kesunyian.
Mengapa Lebaran Mereka Lebih Awal?
-
Metode Hisab Qamariyah Klasik: Mereka merujuk pada perhitungan astronomi Islam (ilmu falak) yang tertuang dalam kitab-kitab rujukan tarekat (seperti Kitab Munjid).
-
Kepastian Sunnatullah: Bagi mereka, peredaran bulan adalah hukum alam yang pasti dan bisa dihitung secara matematis tanpa harus bergantung pada penglihatan mata manusia yang bisa terhalang cuaca.
-
Ketaatan pada Mursyid: Penetapan ini merupakan ijtihad dari pemimpin spiritual (Mursyid) yang ditaati oleh para pengikutnya sebagai bentuk kepatuhan ilmu.
[Image comparing Hilal observation methods: Rukyatul Hilal vs Hisab Qamariyah]
Keberagaman yang Memperkaya Indonesia
Penting untuk dipahami bahwa meskipun memiliki perbedaan teknis dalam beribadah dan menetapkan tanggal raya, Tarekat Naqsyabandiyah tetap berpijak pada rukun Islam dan rukun iman yang sama. Syahadat, kiblat, dan kitab suci mereka tetap sama dengan umat Muslim lainnya.
Perbedaan ini justru menjadi cermin betapa kayanya khazanah pemikiran Islam di Nusantara. Sebuah harmoni dalam keberagaman yang menunjukkan bahwa ada banyak jalan menuju ketenangan batin, salah satunya melalui “jalur sunyi” zikir hati.
Sumber Informasi & Rujukan:
-
Sejarah & Silsilah: Merujuk pada literatur klasik tasawuf dan Ensiklopedia Islam mengenai biografi Syeikh Bahauddin al-Naqsyabandi dan konsep Golden Chain (Silsilah Emas) Naqsyabandiyah.
-
Metode Zikir: Berdasarkan kajian ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Haqqani mengenai praktek Zikir Sirri dan teknik Lathaif (titik-titik halus).
-
Penetapan Hari Raya: Merujuk pada prinsip-prinsip Ilmu Falak dan Hisab Qamariyah yang umum digunakan oleh berbagai komunitas tarekat di Indonesia, serta kutipan hadis populer mengenai Rukyatul Hilal (HR. Bukhari & Muslim) dan ayat Al-Qur’an tentang ketaatan pada Ulil Amri (QS. An-Nisa: 59).
-
Keberagaman di Indonesia: Data pengakuan dan keberadaan tarekat ini didukung oleh informasi dari organisasi induk tarekat di Indonesia seperti JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah).