Indonesian Journal, Jakarta — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat dorong lahirnya lulusan muda penggerak ekonomi berkelanjutan.
Dalam pembekalan Wisuda Universitas Nasional, Menteri Jumhur menyebut generasi muda memiliki posisi strategis di tengah transformasi menuju ekonomi hijau. Selain menjaga keberlanjutan ekonomi Indonesia, mereka dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru di dalam negeri melalui inovasi dan green jobs.
Menurut Jumhur, juga menyoroti triple planetary crisis yang mencakup krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan. Menurutnya, krisis ini berdampak pada sektor ekonomi, kesehatan, sosial, lingkungan, hingga kemanusiaan.
“Indonesia berada di garis depan risiko perubahan lingkungan global. Namun kondisi ini bukan alasan untuk pesimis. Justru Indonesia memiliki legitimasi moral yang kuat untuk menjadi bagian penting dari solusi global,” ujar Jumhur dalam keterangannya, Sabtu (31/5).
Ia menilai kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan harus diubah menjadi gerakan nyata yang mampu menghadirkan inovasi baru bagi pembangunan nasional.
“Gen Z adalah generasi solusi. Tugas kita sekarang adalah mengubah kepedulian itu menjadi aksi nyata. Dari sekadar awareness menjadi movement. Dari kepedulian menjadi inovasi. Dan, dari diskusi menjadi solusi,” kata Jumhur.
Green Jobs Profesi Masa Depan Indonesia
Dalam kesempatan itu, Jumhur menekankan bahwa visi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045 menempatkan keberlanjutan ekologis sebagai salah satu fondasi utama. Karena itu, transformasi ekonomi hijau dinilai harus berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang inklusif dan adil.
Ia menyebut peluang besar green jobs Indonesia akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja berbasis keberlanjutan. Profesi masa depan tidak lagi hanya berkaitan dengan teknologi digital, tetapi juga sektor hijau yang mendukung ketahanan lingkungan dan ekonomi.
Beberapa profesi yang diproyeksikan meningkat antara lain ahli energi terbarukan, pengelola sampah modern, hingga peneliti biodiversitas. Terdapat juga perencana kota hijau, carbon analyst, hingga spesialis ekonomi sirkuler yang mendukung penguatan ekonomi hijau nasional.
“Transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan akan melahirkan jutaan lapangan pekerjaan baru. Namun kita juga harus memastikan bahwa green jobs tersebut merupakan pekerjaan yang layak, yang adil bagi masyarakat. Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau. Future jobs are green jobs,” tegas Jumhur.
Ia juga menyoroti posisi strategis Indonesia dalam agenda lingkungan global. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove luas, serta kekayaan biodiversitas yang tinggi.
Potensi tersebut dinilainya menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat solusi global berbasis lingkungan.
Di sisi lain, pemerintah terus mempercepat transformasi pengelolaan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular. Terdapat di dalamnya pengembangan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), dan teknologi pirolisis.
Momentum ini sekaligus menjadi sinyal bahwa green jobs adalah masa depan global. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri agar transisi hijau berjalan inklusif tanpa meninggalkan generasi muda.
Melalui dorongan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak lulusan muda penggerak ekonomi berkelanjutan. Bukan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi, inovasi, dan penggerak transformasi ekonomi hijau yang tangguh dan berdaya saing.
