Indonesian Journal, Yogyakarta — Pelatihan wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat resmi ditutup Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono di Yogyakarta, Sabtu (26/9) lalu. Ia menegaskan wali asuh dan wali asrama adalah ujung tombak pembentukan karakter siswa.
“Wali asuh dan wali asrama adalah ujung tombak dalam membangun karakter anak-anak di Sekolah Rakyat. Saya titip mereka, antarkan mereka, bangun karakter mereka,” kata Agus Jabo. Ia menambahkan potensi anak-anak Sekolah Rakyat setara dengan anak lain, hanya latar belakangnya berbeda.
Pelatihan berlangsung 22–26 September 2026, diikuti 200 peserta dari Regional Yogyakarta. Peserta terdiri atas 160 wali asuh dan 40 wali asrama Sekolah Rakyat.
Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam. Kondisi ini mendorong Agus Jabo meminta pendekatan yang tidak hanya formal, tetapi juga penuh empati.
“Anak-anak ini pada dasarnya membutuhkan perhatian dari kita, pendampingan dari kita, kasih sayang dari kita,” ujarnya.
Dalam sambutannya itu, ia juga meminta pendamping siswa ini mampu memahami mereka secara individual, bukan secara kolektif.
Untuk itu,wali asuh dan wali asrama diharapkan mampu berperan secara aktif bahkan ketika jam belajar di kelas usai.
“Yang bertugas membangun karakter di luar jam belajar di kelas adalah wali asuh dan wali asrama,” kata Agus Jabo.
Kebutuhan Tenaga Pendamping Sekolah Rakyat
Salah satu peserta, Baiq Windra Ishanda dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur, merasakan langsung dampak pelatihan. “Kami hadir sebagai ibu dan bapak bagi anak-anak, menjadi rumah kedua bagi mereka,” ujarnya.
Baiq juga menyoroti pentingnya kedisiplinan dari diri sendiri.
“Pelatihan ini mengajarkan keteguhan, kesadaran, dan kedisiplinan dari diri sendiri,” katanya, agar bisa diterapkan di Sekolah Rakyat masing-masing.
Pelatihan ini digelar di tengah laporan kekurangan tenaga pendamping di berbagai Sekolah Rakyat. Kepala SR 19 Sonosewu Bantul, Agus Ristanto, menyebut rasio ideal satu wali asuh untuk 10 siswa. Namun dari kebutuhan 20 wali asuh untuk 200 siswa, baru 11 yang melapor.
Kondisi serupa terjadi di Kota Malang, tempat satu wali asuh menangani hingga 25 siswa akibat kekurangan tenaga. Bahkan Menteri Sosial Gus Ipul sendiri pernah mengakui kekurangan ini secara nasional, dengan contoh satu sekolah membutuhkan 12 wali namun baru tersedia 7.
Agus Jabo menekankan pentingnya keberlanjutan pendampingan hingga siswa lulus. Kementerian Sosial berupaya memastikan lulusan Sekolah Rakyat punya pilihan melanjutkan pendidikan, bekerja, atau berusaha.
“Potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, cuma latar belakangnya yang berbeda. Tugas kalian menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang besar,” pungkasnya.

