Indonesian Journal, Semarang – Sampah organik dapur sering kali langsung dibuang setelah memasak, mulai dari kulit buah hingga sisa potongan sayuran. Padahal, bahan-bahan tersebut masih dapat diolah dan dimanfaatkan, salah satunya melalui pengolahan menjadi eco-enzyme.
Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi kulit buah dan sisa sayuran dengan tambahan air dan gula. Pengolahan ini menjadi pilihan untuk memanfaatkan limbah dapur, sekaligus membangun kebiasaan memilah sampah organik dari rumah.
Salah satu penerapannya dilakukan tim Building Management BINUS University di Alam Sutera sejak 2022. Berdasarkan laporan BINUS General Affairs pada 20 Agustus 2024, program tersebut telah mengolah sekitar 450 kilogram limbah organik dan menghasilkan sekitar 1.500 liter eco-enzyme selama hampir dua tahun.
Pencapaian tersebut menunjukan bahwa pemilahan dan pengolahan limbah organik dapat dilakukan secara rutin pada lingkungan kampus.
“Praktik berkelanjutan ini diestimasikan telah mampu mengurangi hampir 1 kg limbah organik setiap harinya di lingkungan kampus Alam Sutera,” ujar Suhendra, perwakilan tim Building Management BINUS University, sebagaimana dikutip dalam laporan BINUS General Affairs.
Dari sisi lingkungan, pengelolaan sampah dapur dapat mengurangi jumlah limbah organik yang dibuang sekaligus mendorong pemanfaatan menjadi produk yang berguna. Dengan pembuatan eco-enzyme juga dapat menjadi sarana membangun kebiasaan pilah-pilih sampah agar tidak langsung bercampur dengan plastik, kemasan, atau sampai lainnya.
Eco enzyme yang telah diolah dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan sabun cair. Selain itu, cairan ini juga telah dikembangkan bersama buah lerak menjadi bahan pencuci batik.
Pemanfaatan tersebut dibahas dalam jurnal pengabdian masyarakat mengenai sabun batik berbahan lerak dan eco-enzyme untuk UMKM Batik Sekar Ndaru di Mojokerto.
“Selama ini pelanggan hanya mencuci kain batik dengan deterjen biasa tanpa menggunakan sabun khusus batik,” tulis tim penulis dalam Jurnal Sasambo pada November 2025.
Dengan demikian, pengembangan tersebut membuka peluang pemanfaatan limbah dapur menjadi bahan tambahan produk yang berguna. Namun, manfaat sabun baik itu berasal dari formulasi gabungan lerak dan eco-enzyme, sehingga belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa eco-enzyme saja mampu menggantikan deterjen.
Karena eco-enzyme dibuat dengan memanfaatkan sampah organik dari dapur rumah tangga. Pengolahannya menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah kulit buah dan sisa sayur rumah tangga yang langsung dibuang. Namun, penggunaan bahan organik tidak otomatis menjamin hasilnya eco-enzym yang sesuai; proses pembuatan dan pemanfaatannya tetap perlu mengikuti panduan yang tepat.
Awalnya pembuatan eco-enzyme perlu dimulai dengan memilah kulit buah dan sisa sayuran yang sesuai dengan panduan, kemudian mencampurkannya dengan air dan gula dalam takaran yang ditentukan. Setelah itu, campuran akan difermentasikan selama 1 – 3 bulan.
Selama proses berlangsung, gas yang terbentuk perlu dilepaskan secara berkala agar tidak menimbulkan tekanan berlebih didalam wadah.
Pemanfaatan kulit buah dan sisa sayuran menjadi eco-enzyme menunjukkan bahwa sebagian limbah dapur masih memiliki nilai guna. Dengan proses pengolahan yang tepat dan penggunaan sesuai hasil pengujian, kebiasaan memilah sampah dapat berkembang menjadi langkah nyata untuk mengurangi limbah yang dibuang dari rumah. (Cito, Semarang)

