IndonesianJournal.id, Bandung – Wardah Inspiring Teacher (WIT) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) membuka generasi ke-8 pada Sabtu (14/2), di Bandung.
Dalam sambutannya CEO Paragon Corp, Salman Subakat, menjabarkan visi mendalam mengenai arah pemberdayaan guru dalam program Wardah Inspiring Teacher (WIT). Lebih jauh Salman menegaskan bahwa WIT tak hanya sekedar pelatihan, WIT kini dialamatkan untuk menyentuh aspek kesejahteraan dan jenjang karir guru secara nyata.
Dalam wawancara eksklusifnya, Salman menyoroti isu kesejahteraan guru sebagai masalah kompleks yang seringkali tidak merata. Oleh karena itu, WIT berusaha masuk ke ranah yang lebih strategis, yakni menciptakan lingkungan yang memungkinkan guru untuk tumbuh, baik dalam skala sekolah maupun ekosistem kebijakan yang lebih luas.
“Bagaimana membuat kebijakan dan ekosistem yang mendukung, saya rasa ini akan mempengaruhi ke tiga tingkat perubahan,” ujar Salman.
Dalam penjelasannya, Salman merincinkan perubahan yang dimaksud, yaitu bergerak dari tingkat kompetensi individu guru, meluasnya ke budaya lingkungan sekolah, hingga akhirnya berdampak pada kebijakan publik dan tingkat kesejahteraan guru. Ia meyakini pembenahan ini harus menyentuh level ketiga tersebut secara bersamaan.
Program “Mini Master” Bersama ITB
Salah satu terobosan strategi dalam WIT tahun ini adalah kolaborasi dengan ITB yang menawarkan pengakuan akademis bagi para peserta. Salman menyebut program ini layaknya sebuah “Mini Master” atau S2 mini.
“ITB menawarkan sertifikat SKS. Jadi kita akan mencoba sebanyak mungkin mereka (guru) akan kuliah seperti ‘Mini S2’ atau ‘Mini Master’. Kita cari bagaimana mengembangkan lab, mengembangkan metode pengajaran. Jadi ada kerja sama antara materi pedagogi pendidikan dengan materi sains dan teknologi,” jelas Salman.
Langkah ini dinilai krusial untuk memvalidasi kompetensi guru. Salman menjelaskan bahwa partisipasi aktif dalam program intensif seperti WIT dapat menjadi bukti komitmen (proof of commitmen) seorang pendidik. Harapannya, validasi ini dapat mempermudah jenjang karir mereka, misalnya dalam proses transisi dari status honorer menuju ASN atau guru tetap.
“Mungkin selama ini orang berpikir, bisa tidak ya guru A atau guru B ini lolos uji kompetensi? Adanya pertemuan (program) seperti ini jadi cepat. Seolah-olah sudah ada jaminan bahwa guru ini berkomitmen,” ungkapnya.
Ia berharap data dan kualitas lulusan WIT dapat menjadi bahan pertimbangan kuat bagi para pengambil keputusan (stakeholder) dalam meningkatkan status karir guru tersebut.
Lebih jauh lagi, Salman mengapresiasi ITB yang sangat bersemangat dalam menjalankan program ini. Ia pun berharap model “Mini Master” ini dapat diduplikasi oleh kampus-kampus lain di Indonesia, mengingat kapasitas satu institusi tidak akan cukup menampung antusiasme guru yang begitu besar.
“Kita mengundang kalau kampus lain ingin melakukan hal itu, tentu kita sangat senang sekali. Karena kalau proyek ini sukses, sangat bisa diduplikasi,” pungkas Salman.
Sekadar informasi, Program Wardah Inspiring Teacher telah berjalan selama tujuh generasi dan terbukti melahirkan komunitas guru yang solid. Salman meyakini konsistensi ini menjadi modal sosial berharga bagi kemajuan pendidikan bangsa, dan meningkatkan standar kesejahteraan para guru.
