IndonesianJournal.id, Jakarta – Pantai menjadi salah satu tempat yang sering sekali dijadikan tempat wisata, melepas kejenuhan kehidupan sehari-hari. Suasana pantai yang autentik dan juga pemandangan lepas jauh ke tengah laut, dengan birunya langit di ujung cakrawala dan angin laut yang khas, seakan mampu sejenak membawa pergi kepenatan dan kejenuhan.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa laut, pantai dan pesisir bukan sekedar tempat aktifitas manusia, tapi juga tempat tumbuh dan berkembangnya ragam ekosistem yang saling menunjang keberlangsungan kehidupan yang madani. Dimana, saat ekosistem rusak akan mempengaruhi banyak sendi kehidupan.
Sayangnya, berbagai aktivitas manusia beberapa puluh tahun terakhir ini sangat tidak menguntungkan bagi kelanjutan ekosistem di pantai mau pun pesisir. Dan dampaknya makin terasa dengan terjadinya banjir, terkikisnya permukaan laut karena penggundulan hutan mangrove, musnahnya beberapa jenis hewan yang menjadi bagian dari rantai kehidupan dan masih banyak bencana lainnya, termasuk perubahan iklim yang saat ini terjadi.
Djarum Foundation melalui salah satu pilarnya, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), yang fokus pada Konservasi alam, penghijauan, dan pengurangan emisi karbon, melakukan gerakan nyata untuk memperbaiki ekosistem pantai dan pesisir yang rusak karena ulah manusia ini.
Mengutip pernyataan dari FX Supanji, Vice President Director Djarum Foundation, yang diterbitkan oleh beberapa media nasional tentang preservasi mangrove sangat penting untuk menjaga ekosistem alam dan telah terbukti melindungi wilayah seperti Mangkang, Semarang, dari banjir rob.
“Rehabilitasi ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang adalah kunci utama dalam mitigasi perubahan iklim global. Langkah yang diambil oleh sektor swasta seperti BLDF sangat krusial, karena pemulihan alam butuh kolaborasi lintas sektor. Mangrove yang sehat mampu menyerap karbon jauh lebih besar daripada hutan daratan, sekaligus menjadi pelindung alami daratan dari abrasi yang kian mengancam,” ucap FX Supanji.
BLDF tidak sekedar melakukan ceremony penanaman kembali tanaman mangrove, tapi juga memastikan mangrove yang ditanam tumbuh sempurna, seperti harapan dengan terlebih dahulu melakukan rangkaian penelitian. Rehabilitasi yang dilakukan dimulai dari pemilihan bibit unggul di pusat pembibitan mandiri, memastikan setiap helai hijau yang akan ditanam memiliki daya tahan prima untuk menghadapi kerasnya hantaman gelombang.
Proses “menjahit kembali” ini dilakukan dengan pemetaan zona pesisir yang akurat. BLDF tidak asal menancap bibit; mereka memperhitungkan pasang-surut air dan karakteristik substrat tanah agar akar mangrove dapat mencengkeram dasar pantai dengan sempurna. Struktur akar yang saling mengunci inilah yang nantinya menjadi barisan pertahanan alami, sebuah jahitan ekologi yang mampu meredam energi ombak dan memerangkap sedimen, sehingga daratan tidak lagi kalah oleh abrasi.
Tak berhenti di permukaan, rehabilitasi ini merambah hingga ke balik jernihnya air laut. Melalui restorasi terumbu karang dengan metode yang terukur, BLDF membangun kembali “fondasi rumah” bagi biota laut yang sempat kehilangan arah. Setiap struktur karang buatan yang diturunkan adalah harapan baru bagi polip-polip karang untuk tumbuh dan menghidupkan kembali rantai makanan yang sempat terputus.
Namun, benang paling kuat dalam jahitan rehabilitasi ini adalah pelibatan masyarakat lokal. BLDF menyadari bahwa penjaga terbaik dari sebuah ekosistem adalah mereka yang hidup berdampingan dengannya. Nelayan dan warga pesisir diedukasi dan dirangkul untuk menjadi pengawas aktif, memastikan bahwa “jahitan” alam ini tidak terkoyak oleh sampah atau aktivitas manusia yang merusak. Inilah esensi dari gerakan Bumi Lestari; sebuah kolaborasi teknis yang melibatkan hati, tangan, dan komitmen jangka panjang.
Senada dengan hal ungkapan FX Supanji, pakar perubahan iklim Mahawan Karuniasa mempertegas bahwa rehabilitasi pesisir adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan sinergi semua pihak agar dampaknya benar-benar terasa bagi perlindungan daratan.
Pada akhirnya, rehabilitasi pesisir yang digagas oleh BLDF bukan sekadar upaya memulihkan hijaunya bakau atau jernihnya terumbu karang. Ini adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa garis pantai kita tetap memiliki detak jantung yang sehat. Jika ‘jahitan’ ekologi ini terus dijaga dengan sinergi yang kuat antara sektor swasta, pakar, dan masyarakat, maka birunya cakrawala yang kita nikmati hari ini tidak akan menjadi sekadar mitos bagi generasi mendatang. Karena bumi yang lestari, selalu bermula dari kepedulian yang tidak pernah putus untuk terus merajut kembali apa yang sempat koyak oleh waktu.



