Kasus Violent Conduct Alberto Hengga, Sanksinya Bisa Berlapis

Kasus dugaan violent conduct kembali mencuat di sepakbola Indonesia setelah aksi kontroversial Alberto Hengga viral di media sosial. Eks pemain Timnas Indonesia U-17 itu diduga melakukan tendangan bergaya “kungfu” saat laga Elite Pro Academy (EPA) U-20. Cuplikan insiden tersebut langsung menuai kecaman publik dan memicu perdebatan soal batas agresivitas dalam pertandingan profesional.

Berdasarkan laporan kronologi, insiden bermula dari duel antar pemain yang semakin intens sebelum akhirnya memicu reaksi emosional. Aksi tendangan “kungfu” ke pemain lawan itu terjadi di luar konteks perebutan bola, memicu ketegangan yang nyaris berujung perkelahian massal. Momen ini bahkan dinilai mencoreng peringatan hari ulang tahun PSSI yang seharusnya menjadi momentum refleksi bagi sepakbola nasional.

Apa Itu Violent Conduct?

Dalam regulasi sepakbola internasional yang mengacu pada FIFA, terdapat perbedaan mendasar antara serious foul play dan violent conduct. Serious foul play umumnya terjadi saat pemain melakukan pelanggaran keras dalam upaya merebut bola, namun dengan intensitas berbahaya yang bisa mencederai lawan. Pelanggaran ini masih berada dalam konteks permainan.

Sebaliknya, violent conduct merujuk pada tindakan kekerasan yang dilakukan tanpa kaitan langsung dengan perebutan bola. Perilaku memukul, menendang secara sengaja, atau menyerang lawan dalam kondisi bola tidak aktif masuk dalam kategori tersebut. Dalam banyak kasus di liga internasional maupun sepakbola Indonesia, kategori ini dianggap lebih serius karena menunjukkan unsur niat mencederai.

Aturan Terhadap Violent Conduct

Dalam konteks aturan PSSI, tindakan seperti yang diduga dilakukan Alberto Hengga masuk dalam kategori pelanggaran berat. Kode Disiplin PSSI secara tegas mengatur hal ini melalui Pasal 48 tentang tindakan kasar. yang mencakup perilaku brutal. Sanksinya tidak main-main, mulai dari skorsing panjang hingga denda signifikan.

Lebih lanjut, Pasal 50 tentang bertingkah laku buruk mengatur konsekuensi jika insiden berkembang menjadi kericuhan atau perkelahian massal. Dalam situasi seperti ini, setiap pemain yang terlibat dapat dikenai hukuman tambahan berupa larangan bermain dalam beberapa pertandingan. Terdapat juga saksi berupa denda finansial yang nilainya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Dalam kasus ekstrem, Komite Disiplin bahkan memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi larangan beraktivitas di dunia sepakbola seumur hidup. Hukuman ini biasanya diberikan jika tindakan kekerasan menyebabkan cedera serius atau melibatkan unsur penyerangan terhadap perangkat pertandingan seperti wasit.

Menariknya, pelanggaran dalam sepakbola tidak sepenuhnya kebal hukum. Dalam sistem hukum Indonesia, tindakan kekerasan di lapangan bisa masuk ranah pidana jika terbukti disengaja dan di luar konteks permainan. Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dapat dikenakan dengan ancaman hukuman hingga 2,8 tahun penjara, bahkan meningkat jika mengakibatkan luka berat. Sejumlah preseden di sepakbola nasional menunjukkan bahwa pemain pernah diproses hukum karena aksi kekerasan di lapangan.

Tak hanya pemain, klub juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga disiplin. Jika terbukti lalai mengendalikan pemainnya, klub dapat dikenai sanksi administratif seperti denda, pengurangan poin, hingga pertandingan tanpa penonton. Hal ini menjadi bagian dari upaya menjaga integritas kompetisi sepakbola indonesia secara keseluruhan.

Dampak dari kasus dugaan violent conduct ini pun langsung terasa bagi karier Alberto Hengga. Ia dikabarkan resmi dicoret dari skuad Timnas Indonesia U-20 sebagai bentuk konsekuensi atas insiden tersebut. Keputusan ini menjadi sinyal tegas bahwa tindakan kekerasan tidak mendapat tempat dalam pembinaan pemain muda, sekaligus menjadi pengingat bahwa disiplin dan sportivitas adalah fondasi utama dalam perkembangan sepakbola nasional.

Community Podcast

Latest articles

Related articles