Dari “Ruang Aman” ke Ruang Trauma, Komunitas yang Gagal Melindungi

IndonesianJournal.id, Jakarta – Di atas kertas, komunitas selalu terdengar ideal. Jargon sebagai ruang aman, tempat bertumbuh, dan wadah solidaritas masih menjadi andalan. Dari organisasi kampus hingga komunitas kreatif, dari kelompok relawan hingga ruang ibadah, semuanya menjanjikan rasa saling memiliki. 

Namun realitas sering berkata lain. Di balik jargon “safe space”, tak sedikit komunitas justru menjadi ruang sunyi bagi korban pelecehan seksual. Realitanya, komunitas menjadi tempat di mana suara mereka dipertanyakan, bukan dilindungi.

Fenomena ini bukan sekadar ironi, melainkan kegagalan sistemik. Ketika pelecehan terjadi di dalam komunitas, respons yang muncul sering kali bukan empati, melainkan negosiasi reputasi. Nama baik organisasi, relasi personal, hingga hierarki kekuasaan lebih diutamakan dibanding keselamatan korban. 

Dalam banyak kasus, pelaku dilindungi karena “punya kontribusi besar”, sementara korban didorong untuk diam demi “menjaga suasana”. Di sinilah konsep ruang aman runtuh.

Budaya Diam yang Dipelihara

Salah satu akar masalah terbesar adalah budaya diam. Banyak korban memilih tidak melapor karena takut tidak dipercaya, disalahkan, atau bahkan dikucilkan. Dalam konteks komunitas yang erat secara sosial, risikonya menjadi lebih besar: kehilangan jaringan pertemanan, akses peluang, bahkan identitas sosial.

Budaya ini diperparah oleh praktik victim blaming yang masih mengakar. Pertanyaan seperti “kenapa tidak menolak?” atau “kenapa baru bicara sekarang?” lebih sering muncul dibanding upaya memahami trauma korban. Alih-alih menjadi ruang pemulihan, komunitas justru menjadi ruang kedua yang melukai.

Padahal, dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, rasa aman adalah prasyarat dasar partisipasi. Tanpa itu, inklusi hanyalah ilusi.

Ketika Kekuasaan Membungkam

Pelecehan seksual di komunitas sering kali berkaitan erat dengan relasi kuasa. Senior terhadap junior, mentor terhadap anggota baru, atau tokoh berpengaruh terhadap relawan. Ketimpangan ini menciptakan situasi di mana korban merasa tidak punya posisi tawar untuk melawan.

Dalam banyak kasus, pelaporan tidak hanya berarti melawan pelaku, tetapi juga melawan struktur. Ketika pelaku memiliki akses terhadap pengambil keputusan, proses keadilan menjadi bias sejak awal. Sekiranya mekanisme internal itu ada, namun kerap tidak independen, dan cenderung melindungi institusi.

Situasi ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar perilaku individu, melainkan desain sistem yang tidak berpihak pada korban.

Krisis yang Menghambat Pembangunan

Jika ditarik lebih luas, kegagalan komunitas dalam melindungi anggotanya adalah ancaman nyata bagi pembangunan berkelanjutan. United Nations menempatkan kesetaraan gender sebagai salah satu tujuan utama dalam SDGs. Namun, bagaimana mungkin tujuan ini tercapai jika ruang-ruang sosial justru tidak aman?

Pelecehan seksual membatasi partisipasi. Ia membuat kelompok rentan lainnya menarik diri dari ruang publik, kehilangan akses terhadap peluang, dan pada akhirnya memperlebar ketimpangan. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya masalah individu, tetapi kerugian kolektif bagi masyarakat.

Komunitas yang tidak aman bukan hanya gagal melindungi. Mereka juga gagal berkontribusi pada masa depan.

Membangun Ulang Makna “Ruang aman”

Maka pertanyaannya: apakah ruang aman masih mungkin?

Jawabannya tentu saja, “ya”! tetapi tidak bisa lagi berhenti pada klaim. Komunitas perlu membangun sistem yang nyata dan terukur. 

Hal ini harus dimulai dari kebijakan nol toleransi, mekanisme pelaporan yang independen, hingga edukasi tentang consent dan relasi kuasa. Lebih dari itu, perlu ada keberanian untuk menempatkan korban sebagai pusat, bukan sebagai risiko reputasi.

Perubahan juga menuntut peran kolektif. Anggota komunitas, terutama mereka yang memiliki privilese lebih, harus berani menjadi ally. Diam yang terlihat netral justru kenyataannya bagian dari masalah.

Dari Solidaritas ke Tanggung Jawab

Pada akhirnya, komunitas tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi solidaritas. Ia harus bertransformasi menjadi ruang tanggung jawab. Tempat di mana setiap individu tidak hanya merasa diterima, tetapi juga dilindungi.

Karena tanpa rasa aman, tidak ada keberlanjutan.Lebih penting dari itu, tanpa keberanian untuk berubah, “ruang aman” akan tetap menjadi mitos yang mahal harganya.

Community Podcast

Latest articles

Related articles