Indonesian Journal, Jakarta – Pembukaan LEGO Certified Store terbesar di Asia Tenggara di Jakarta dinilai mencerminkan kekuatan ekonomi resilien Indonesia di tengah dinamika global.
Kementerian Perdagangan menyebut, kehadiran gerai ini memperluas aktivitas ritel, sekaligus menjadi indikator keterjagaan daya beli masyarakat dan konsumsi domestik. Sepanjang 2025, konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari 53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, penjualan eceran riil tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan.
Dalam konteks tersebut, ekonomi resilien merujuk pada kemampuan suatu negara bertumbuh dan beradaptasi di tengah tekanan global. Kemampuan ini termasuk melalui kekuatan pasar domestik, stabilitas perdagangan, serta kepercayaan investor. Kehadiran pelaku usaha global seperti LEGO menjadi salah satu indikator bahwa fondasi tersebut dinilai cukup kuat.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal S. Shofwan, menyatakan bahwa kehadiran LEGO Certified Store ini memperkuat konteks resiliensi tersebut.
“Investasi ini juga juga membuktikan kepercayaan investor global terhadap ekonomi Indonesia yang solid,” sambut Iqbal saat pembukaan, di Grand Indonesia, Jakarta Pusat (24/4/2026).
Ia menambahkan, gerai ini juga memacu aktivitas perdagangan ritel domestik sekaligus menghadirkan destinasi belanja inovatif bagi masyarakat.
Lebih dari itu, kehadiran LEGO juga memperlihatkan bagaimana ekonomi resilien bekerja dalam praktik. Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai pasok global, termasuk dalam produksi mainan yang melibatkan unsur lokal. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam perdagangan internasional.
Gerai LEGO di Grand Indonesia juga dirancang tidak sekadar sebagai ruang ritel, tetapi sebagai titik temu antara perdagangan, kreativitas, dan pariwisata. Konsep ini membuka peluang baru dalam mendorong aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan, sekaligus menciptakan pengalaman yang lebih interaktif bagi pengunjung.
Dalam jangka lebih luas, pendekatan tersebut memiliki irisan dengan prinsip keberlanjutan, terutama dalam membangun ekosistem ekonomi yang inklusif. Kolaborasi dengan pelaku usaha lokal, termasuk UMKM, menjadi bagian dari upaya memperluas dampak ekonomi sekaligus memperkuat struktur pasar domestik.
