Industri Tekstil Berkelanjutan Dorong Hakatex Konsisten Tembus Pasar Ekspor

IndonesianJournal.id, Jakarta – Industri tekstil berkelanjutan bukan lagi sekadar jargon global, tetapi mulai menjadi arah strategis bagi pelaku industri dalam negeri. Di tengah gelaran Indo Intertex 2026 dan kunjungan Menteri Perdagangan Budi Santoso, kisah PT Hakatex dari Bandung menunjukkan bagaimana transformasi itu dijalankan dari level perusahaan keluarga hingga menembus pasar internasional.

Kunjungan Menteri Budi Santoso ke Hakatex
Kunjungan Menteri Budi Santoso ke Hakatex, disambut oleh Calvin. Dokpri

Didirikan sejak 1973, Hakatex kini berada di bawah generasi kedua dan ketiga. Calvin, Direktur Marketing Hakatex, melanjutkan estafet bisnis keluarga dengan membawa pendekatan yang lebih adaptif terhadap pasar global. Perusahaan ini dikenal memproduksi kain woven seperti katun, rayon, linen, hingga sutra, dengan fokus utama pada industri fesyen.

Namun, di balik fokus tersebut, Hakatex diam-diam telah mengembangkan lini produk lain, termasuk tekstil untuk kebutuhan militer yang bahkan telah diekspor ke berbagai negara seperti Timor Leste dan Zimbabwe. Langkah ekspansi ini memperlihatkan fleksibilitas industri dalam membaca peluang pasar.

“Tahun ini pertama kali kami menampilkan produk militer, walaupun sebenarnya sudah lama kami kerjakan. Selama ini kami fokusnya ke fashion industry,” kata Calvin.

Perjalanan ekspor Hakatex sendiri dimulai sejak akhir 1990-an. Tantangan tidak kecil, terutama ketika perusahaan harus memenuhi standar internasional yang jauh lebih ketat. Dari sertifikasi hingga komunikasi intensif dengan buyer, semua menjadi bagian dari proses panjang membangun kepercayaan global. Trust ini juga termasuk ekspor tekstil ke negara yang dikenal memiliki regulasi ketat, yaitu Amerika Serikat.

Calvin mengisahkan bagaimana perubahan kebijakan global bisa langsung berdampak pada rantai pasok. Salah satu contohnya adalah larangan penggunaan kapas dari wilayah tertentu oleh pemerintah Amerika Serikat. Hakatex pun harus cepat beradaptasi dengan beralih ke sumber bahan baku dari negara lain seperti Amerika, Mesir, Australia, dan Brasil.

Relevansi Industri Tekstil Berkelanjutan

Di titik inilah industri tekstil berkelanjutan menemukan relevansinya sebagai strategi, bukan sekadar tren. Bagi Hakatex, pendekatan ini dilakukan melalui berbagai langkah konkret, mulai dari efisiensi penggunaan air dalam produksi, pemanfaatan energi surya, hingga penggunaan gas sebagai sumber energi alternatif.

“Saya melihat sustainability ini sebagai peluang. Karena di berbagai bidang, sustainability itu sudah menjadi awareness yang harus dipelajari,” ungkapnya kepada Indonesian Journal.

Upaya tersebut diperkuat dengan penerapan sistem pengolahan limbah melalui instalasi IPAL sejak 2015, serta partisipasi dalam IPAL komunal di kawasan industri Bandung. Praktik ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan tekstil ramah lingkungan yang tidak hanya memenuhi tuntutan pasar, tetapi juga standar global.

“Kami meminimalisir penggunaan air produksi, menambahkan solar panel di kantor, dan menggunakan gas sebagai pembangkit energi,” tambah Calvin.

Di sisi sertifikasi, Hakatex telah mengantongi berbagai pengakuan internasional seperti ISO 14001, ISO 9001, ISO 45001, hingga Oeko-Tex dan Higg Index. Keanggotaan dalam US Cotton Trust Protocol juga mempertegas posisi mereka dalam rantai pasok global yang berkelanjutan.

Kehadiran Menteri Perdagangan di booth Hakatex menjadi momen simbolik sekaligus pengakuan atas upaya tersebut. Bagi Calvin, kunjungan singkat itu menjadi validasi bahwa transformasi yang dilakukan industri tekstil nasional mulai mendapat perhatian di level kebijakan.

Ke depan, tantangan industri tidak hanya soal harga dan kualitas, tetapi juga bagaimana mengintegrasikan inovasi, keberlanjutan, dan kepatuhan terhadap standar global. Dalam konteks ini, industri tekstil berkelanjutan menjadi kunci bagi pelaku usaha Indonesia untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar dunia.

 

Community Podcast

Latest articles

Related articles