Indonesian Journal, Jakarta – Di tengah pembangunan kota yang terus meluas, petani pinggir kota (peri-urban) justru menjadi penopang penting ketahanan pangan. Mereka bertani di sisa lahan sawah yang semakin sempit, sementara kebutuhan pangan terus meningkat.
Dalam forum Knowledge & Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit yang digelar KONEKSI (28/4/2026), perihal ini dibedah bersama Kementerian Koordinasi Bidang Pangan.
Lahan pertanian di pinggiran kota terus berkurang karena pembangunan. Di saat yang sama, petani harus menghadapi cuaca yang tidak menentu dan biaya produksi yang semakin tinggi. Situasi ini membuat ketahanan pangan semakin rentan.
Dalam kondisi seperti ini, peran petani pinggir kota menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga agar pasokan pangan tetap ada, terutama untuk wilayah perkotaan.
Peneliti dari AKATIGA, Charina Chazali, menjelaskan bahwa solusi perlu dilakukan secara menyeluruh.
“Kami mengembangkan strategi untuk mengatasi krisis ini, antara lain dengan menanam kembali pohon di lahan yang rusak, mendukung petani perempuan dan lansia, serta membantu keluarga petani tetap bertahan secara ekonomi,” ujarnya.
Artinya, solusi tidak hanya soal menanam lebih banyak, tetapi juga memastikan petani bisa terus bertani.
Masalah ini juga terlihat jelas di Indonesia timur. Banyak daerah di sana masih menghadapi risiko kekurangan pangan.
“Di kawasan Indonesia timur, masih ada 81 kabupaten/kota yang rentan dan sangat rentan terkait ketahanan pangannya,” kata Fajar Nuradi dari Kemenko Pangan dalam forum yang sama.
Contoh ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi besar, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat di berbagai daerah bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Karena itu, menjaga petani pinggir kota menjadi semakin penting. Di tengah menyusutnya sisa lahan sawah, mereka justru menjadi salah satu kunci agar ketahanan pangan tetap terjaga.
