Sejarah Koperasi dan Hari Buruh, Dari Perlawanan ke Harapan Baru

Indonesian Journal, Jakarta – Di tengah peringatan Hari Buruh, satu pertanyaan lama kembali mengemuka, adakah sistem ekonomi yang benar-benar berpihak pada mereka?

Secara historis, pernah lahir sistem ekonomi buruh dari gang sempit di Inggris yang kini dikenal sebagai “koperasi”. Kehadirannya bukan sebagai konsep akademik, melainkan sebagai bentuk perlawanan buruh terhadap sistem yang menekan.

Dalam konteks hari ini, narasi itu terasa relevan. Ketika kesejahteraan buruh masih menjadi isu global, sejarah koperasi justru menawarkan cermin bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah.

Buruh dan Kelahiran Koperasi 

Revolusi Industri yang muncul di Inggris pada awal abad ke-19 mengubah wajah ekonomi dunia. Mesin menggantikan tenaga manusia, dan perkotaan tumbuh dengan cepat. Dunia makin modern, tetapi kesejahteraan buruh tertinggal jauh di belakang.

Upah rendah, praktik dagang curang, hingga jeratan utang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pekerja. Dalam situasi itu, buruh tidak hanya menghadapi ketidakadilan di tempat kerja, tetapi juga dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Sejarawan ekonomi Karl Polanyi dalam bukunya The Great Transformation menyebut kondisi ini sebagai bentuk “dislokasi sosial”. Artinya bahwa pasar bekerja tanpa perlindungan terhadap manusia yang bekerja di dalamnya.

Sebelum koperasi berkembang luas, ada upaya dari Robert Owen, seorang pemilik pabrik yang mencoba memperbaiki kesejahteraan buruh. Dirinya kemudian dikenal sebagai Bapak Koperasi Dunia yang memiliki visi sosialis utopis. 

Meski eksperimen komunitasnya di New Lanark (Skotlandia) cukup berhasil, model yang digunakannya masih bersifat “top-down” (dari atasan ke bawahan). Model ini sulit ditiru karena bergantung pada figur pemilik modal.

Perubahan baru benar-benar terjadi ketika buruh mengambil inisiatif sendiri.

Rochdale, Titik Balik Sejarah Buruh

Pada 1844, sebanyak 28 buruh di Rochdale, Inggris, mengumpulkan modal kecil untuk membuka toko bersama. Mereka lelah dengan kondisi perekonomian yang menekan. Harga-harga barang mahal, kualitas barang yang buruk, dan ketidakpedulian pemilik modal atas upah mereka yang minim.

Masing-masing dari mereka mengumpulkan satu poundsterling sebagai modal. Dalam setahun mereka mampu membuka toko kecil di Toad Lane. Awalnya, toko mereka hanya menjual lima barang dasar berupa mentega, gula, tepung, oatmeal, dan lilin.

Dari toko sederhana itu, lahir prinsip yang kemudian menjadi fondasi koperasi modern:

Prinsip pertama : demokrasi. Satu anggota, satu suara

Prinsip kedua : kejujuran. Barang yang dijual harus murni dan timbangannya jujur..

Prinsip ketiga : adil. Sisa Hasil Usaha (SHU) dibagikan kembali kepada anggota berdasarkan jumlah belanja mereka, bukan hanya berdasarkan modal.

Prinsip Keempat : netralitas. Seluruh anggota tidak memihak pada partai politik atau agama tertentu. 

Prinsip ini bukan sekadar aturan bisnis. Ia adalah bentuk keadilan ekonomi yang dirumuskan langsung oleh buruh.

Ekonom Joseph Stiglitz dalam berbagai tulisannya menegaskan bahwa model ekonomi berbasis partisipasi seperti koperasi dapat mengurangi ketimpangan. Model ini dinilainya memberi ruang kepemilikan kepada lebih banyak orang.

Efek Domino Koperasi

Keberhasilan Rochdale memicu efek domino. Model koperasi menyebar ke Eropa dan kemudian ke berbagai belahan dunia. Model ini menyebar cepat ke seluruh Eropa (Jerman dengan koperasi kreditnya, Denmark dengan koperasi pertaniannya). Hingga akhirnya, model ini masuk ke Indonesia melalui sistem perbankan rakyat di akhir abad ke-19.

Di Indonesia, koperasi pertama kali diperkenalkan oleh R. Aria Wiriatmadja pada 1895 di Purwokerto. Beliau mendirikan Hulp-en Spaarbank, atau Bank Pertolongan dan Simpanan, model koperasi dari Jerman. Tujuannya sederhana, yaitu melindungi masyarakat dari jeratan rentenir.

Sistem ekonomi ini kemudian menjadi bagian dari perjuangan melawan ketimpangan. Mohammad Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, melihat koperasi sebagai alat untuk membangun ekonomi yang lebih adil.

Dalam bukunya Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun, Hatta menegaskan bahwa koperasi adalah “usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong”.

Dari Masa Lalu ke Masa Depan

Sejarah koperasi menunjukkan bahwa sistem ini lahir dari krisis, tetapi bertahan karena nilai. Di Hari Buruh, kisah Rochdale mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak selalu datang dari kebijakan besar, tetapi bisa tumbuh dari inisiatif kecil yang konsisten.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah koperasi relevan, tetapi sejauh mana ia bisa dihidupkan kembali dalam konteks zaman yang berbeda.

Karena pada akhirnya, koperasi bukan hanya tentang ekonomi. Ia adalah tentang bagaimana buruh mengambil kembali kendali atas hidupnya.

 

Community Podcast

Latest articles

Related articles