Indonesian Journal, Jakarta – Kabar soal potensi kenaikan porsi pendapatan pengemudi transportasi online hingga 92 persen sempat terdengar seperti angin segar. Namun di lapangan, tidak semua pengemudi menyambutnya dengan rasa lega. Di balik kebijakan tersebut, muncul kekhawatiran pekerja transportasi online akan kemungkinan perubahan pola order dari aplikator.
“Mudah-mudahan mas. Kalau naik, alhamdulillah,” ujar pengemudi transportasi online yang tidak ingin disebutkan namanya itu.
Sebut saja ia sebagai “Af”, seorang pengemudi transportasi online, yang menjalani profesi tersebut dari 10 tahun lalu. Kalimatnya terdengar sederhana, tetapi dibalik jawabannya menyimpan keraguan. Sebagai salah satu suara driver online, persoalannya bukan hanya berapa besar persentase yang diterima, melainkan bagaimana sistem di belakang layar bekerja.
Af menilai, jika pemerintah mendorong porsi pengemudi menjadi lebih besar, aplikator kemungkinan akan mencari titik penyesuaian lain. Kekhawatiran utamanya adalah order untuk pengemudi reguler yang menggunakan kendaraan milik sendiri justru bisa berkurang.
“Kalau misalnya pemerintah naikin 92 persen, entar yang reguler, yang kayak gue ini, kepemilikan mobil sendiri, kemungkinan dikurangi ordernya. Dianyepin,” kata Af kepada tim Indonesian Journal.
Di sinilah isu pola algoritma mulai menjadi percakapan di kalangan pengemudi. Bagi mereka, algoritma bukan sekadar sistem teknis, melainkan penentu siapa yang mendapat order dan siapa yang harus menunggu lebih lama. Ketika aturan pendapatan berubah, sebagian pengemudi khawatir distribusi order diam-diam ikut berubah.
Af menduga, order justru bisa lebih banyak dialihkan ke pengemudi yang terhubung dengan vendor atau skema sewa kendaraan. Menurutnya, pengemudi dalam kategori itu memiliki beban yang berbeda karena harus menanggung biaya sewa kendaraan setiap hari.
“Nanti dia pindahnya ke vendor, driver yang nyewa mobil ke aplikator. Nah itu kan ada biaya sewanya,” ujarnya.
Kepentingan di Dalam Ekosistem Transportasi Online
Kekhawatiran ini membuka persoalan lain yang lebih dalam, yakni konflik kepentingan dalam ekosistem transportasi online. Ketika platform tidak hanya menjadi perantara order, tetapi juga terhubung dengan skema penyewaan kendaraan, muncul pertanyaan tentang sejauh mana distribusi order benar-benar netral.
Di tengah wacana perlindungan pengemudi, suara seperti Af menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya soal angka 92 persen. Yang lebih penting adalah kepastian yang menjawab kekhawatiran pekerja transportasi online terkait sistem algoritma sebagai ruang gelap yang sulit diawasi. Mereka berharap bahwa kebijakan yang terdengar baik di atas kertas benar-benar terasa di jalan secara berkelanjutan.
