PSF Education Summit Menyoroti Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak

Indonesian Journal, Jakarta – Memperingati Hari Pendidikan Nasional sekaligus 25 tahun perjalanannya berkontribusi untuk pendidikan Indonesia, Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui penyelenggaraan PSF Education Summit: Transforming Lives, Shaping the Future semakin menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan di Indonesia.

Melalui kegiatan yang mempertemukan pemerintah, komunitas pendidikan, penerima manfaat, hingga pelaku industri pendidikan dan teknologi ini, PSF mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat akses dan kualitas pendidikan yang lebih inklusif serta berkelanjutan di Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, di antara pembahasan yang bagitu sarat akan unsur pendidikan dirasakan begitu hangat pada sesi talkshow, dimana salah satunya membahas tentang peran orangtua dalam pendidikan dan cara belajar anak sangatlah penting. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pembicara, Iswatul Khoiriyah, S.Pd.SD, Kepala Sekolah SDN Temas 02 Kota Batu yang menerima beasiswa pelatihan guru PSF melalui GuruBinar.

“Orangtua sangat berperan penting dalam perjalanan belajar anaknya. Jangan kita suruh anak belajar, tapi kita nonton sinetron, nonton youtube di sampingnya, dan tidak mendampingi, tidak ngajarin. Giliran anak nilainya jelek kita marah-marah. Solusinya? Dampingi anak, temani saat belajar, beri suasana yang menyenangkan. Dari situ imatan orangtua dan anak semakin kuat, dan ternyata juga berdampak pada nilai anak.” Ujarnya.

Lebih lanjut lagi, ia juga mengakui dengan mengikuti pelatihan PSF dirinya semakin banyak belajar dan upgrade diri.

“Mengikuti pelatihan dari PSF memberi saya banyak wawasan baru yang saya terapkan di kelas. Bagi saya, mengajar bukan sekadar tentang siapa muridnya, tetapi bagaimana mempersiapkan mereka untuk 10 tahun ke depan dengan sepenuh hati. Di era digital ini, saya juga mendorong siswa untuk berpikir kreatif agar siap menghadapi dunia kerja di masa depan,” ungkap Iswatul lebih lanjut.

Sinergi dalam Memajukan Pendidikan Indonesia

Berdasarkan data World Bank – Education Equity in Indonesia, masih banyak siswa berpotensi tinggi yang belum mendapatkan kesempatan optimal untuk berkembang, salah satunya akibat kualitas dan akses pendidikan yang belum merata, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya.

Di sisi lain, akses ke pendidikan tinggi juga masih menjadi tantangan. Data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) menunjukkan bahwa Gross Enrollment Ratio (GER) pendidikan tinggi Indonesia baru mencapai 32,89% pada 2025, yang berarti lebih dari separuh kelompok usia kuliah masih belum mengenyam pendidikan tinggi.

Kesenjangan ini semakin dirasakan oleh kelompok berpenghasilan rendah, siswa dari daerah, serta generasi pertama yang melanjutkan pendidikan ke universitas.

Turut hadir mewakili Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Juwarto, yang menyampaikan apresiasi atas upaya dan komitmen PSF dalam memajukan pendidikan di Indonesia, termasuk di DKI Jakarta.

“Saat ini, pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tapi juga membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan masyarakat. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat, guru tetap menjadi kunci utama transformasi pendidikan. Lebih dari sekadar menyampaikan pengetahuan, guru hadir dengan hati untuk membimbing setiap siswa menjadi pemenang di masa depan,” ujar Juwarto.

Melalui kegiatan ini, PSF menegaskan komitmennya dalam mendukung pendidikan Indonesia melalui pendidikan yang memberdayakan sebagai kunci untuk mentransformasi kehidupan sekaligus membentuk masa depan generasi penerus bangsa. Melalui perluasan akses pendidikan berkualitas, penguatan kapasitas guru, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, PSF terus berupaya mendorong terciptanya dampak nyata bagi pendidikan Indonesia.

Reportase & Artikel by. Kintan

Community Podcast

Latest articles

Related articles