Indonesian Journal, Jakarta – Pukul delapan pagi, di Concourse Barat Jakarta International Stadium, alunan musik Betawi menciptakan rasa penasaran warga. Beberapa orang yang kebetulan lewat mencoba mencari jalan masuk yang tidak ditemukannya. Setelah bertanya ke para pedagang sekitar, barulah mereka mendapati akses masuk stadion setelah berjalan lurus ke arah timur.
Saat memasukinya, sejumlah warga, baik yang muda, dewasa, hingga anak-anak menikmati atraksi budaya khas ondel-ondel. Di sisi yang lain, sekelompok ibu-ibu melakukan olahraga senam bersama. Tak jauh dari lokasi Nobar Piala Dunia 2026, berdiri rentetan stan UMKM.
Aroma khas bakso malang menguar dari salah satu stan. Di sebelahnya, berdiri susunan ragam es, serta die-casting yang berdiri rapi di atas meja. Yang menarik, ketiga produk tersebut dimiliki oleh pihak yang berbeda, tetapi telah merencanakan kolaborasi ini bersama-sama sejak jauh hari.
Aktivitas mereka pada hari itu merupakan hasil dari persahabatan yang tumbuh di tempat yang sama, yaitu stadion JIS.
Jati, pemilik Darirumah Food, adalah salah satu UMKM binaan Jakpreneur Jakarta Utara yang sudah rutin hadir di JIS Sport Festival (JSF) sejak edisi pertama. Usaha yang awalnya hanya menjual bakso malang kini berkembang, mulai dari dimsum, batagor, mie ayam jamur, hingga aneka es. Pertumbuhan itu bukan datang dari pelatihan formal, melainkan dari satu pelajaran sederhana, yaitu membaca pengunjung.
“Awalnya itu lebih ke bakso malang. Cuma kita ya menyesuaikan dari banyaknya pengunjung kayak apa (kebutuhannya). Ya, jadi diperluas (ekstensifikasi produk)” ujar Jati, saat ditemui di stannya Sabtu pagi (20/6) di JIS.

Jejaring yang Lahir dari Saling Sapa
Yang menarik bukan hanya soal angka. Di JSF edisi sebelumnya, Jati bertemu dengan sesama tenan JIS, penjual es yang kini menjadi mitra tetapnya. Keduanya sama-sama dari lingkaran binaan Jakpreneur, tapi justru benar-benar “klik” ketika bertemu di area concourse.
Dari momen itu lahir kolaborasi yang sudah berlangsung tahunan. Berbagi stan, berbagi pelanggan. Edisi tahun ini, bahkan mereka berbagi panggung dengan produk hot wheels untuk memberi ruang bagi anak muda belajar berdagang.
Tidak ada MoU. Tidak ada program kemitraan resmi dari Jakpro. Hanya ada percakapan antar pedagang yang akhirnya membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar berjualan.
Inilah yang membuat JIS secara tidak sengaja berfungsi sebagai inkubator jejaring UMKM. Bukan karena dirancang demikian, tapi karena mempertemukan orang-orang yang tepat di tempat yang sama, berulang kali.
Potensi Besar, Tapi Belum Optimal
Jati bukan tanpa catatan kritis. Ia mengamati bahwa antusiasme pengunjung JSF di edisi-edisi terbaru tidak lagi seramai awal. Dalam hitungannya kini jauh dari angka 10.000 hingga 15.000 pengunjung yang pernah hadir di gelaran perdana. Akar masalahnya, menurutnya, bukan pada kualitas acara, melainkan pada jangkauan informasi.
“Belum optimalnya itu lebih ke woro-woronya. Kadang-kadang ada orang sekitar sini yang belum tahu kalau ternyata di sini ada kegiatan (rutin),” katanya, seraya menunjuk pengunjung di bawah concourse yang memang tidak dapat melihat secara langsung ke lokasi acara.
Ironisnya, pagi itu, Jati sendiri belum tahu bahwa di tempat yang sama sedang dipersiapkan formasi angka untuk merayakan HUT Jakarta ke-499. Hal ini menjadi pembuktian atas apa yang disampaikannya tersebut.
Antara JSF dan Hari Pertandingan Persija
Satu perbandingan yang Jati ungkap dengan jujur adalah pendapatan saat pertandingan Persija berlangsung di JIS jauh melampaui JSF. Jangkauan penonton sepak bola yang datang dari seluruh Jabodetabek membuat perputaran ekonomi di area concourse berbeda kelas. Tapi ia menambahkan satu syarat penting yang sering luput dari perhatian penyelenggara.
“Harga sewanya ke depan nanti jangan nyekek banget. Kita juga jual ke customer, nggak mau juga mahal-mahal,” tuturnya.
Di balik harapan sederhana itu ada realita yang lebih luas bahwa ketika harga sewa menekan margin, UMKM terpaksa membuat pelanggan yang menanggung biayanya. Perihal ini menciptakan lingkaran yang tidak menguntungkan bagi siapapun.
Stadion Lebih dari Sekadar Venue
Bagi Jati dan rekan-rekannya, JIS bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah ruang di mana pertemanan bisnis tumbuh, di mana resep baru dicoba karena melihat selera pengunjung yang berbeda-beda. Mereka juga memberi kesempatan bagi anak-anak muda mulai belajar bahwa berdagang bisa jadi jalan hidup yang layak.
Ekosistem UMKM di Jakarta International Stadium mungkin belum punya nama resmi. Belum ada sertifikat atau program formal yang mengakuinya.
Namun, selama aroma bakso Malang masih menguar setiap pagi, JSF dan stan-stan kecil itu tetap saling berbagi pelanggan. Di balik hiruk-pikuk festival stadion kebanggaan warga Jakarta itu, jejaring mereka terus tumbuh, diam-diam dari bawah.
