Merintis dari Semester 3, Mahasiswa IPB Kini Catat Transaksi Ekspor Rp33 Miliar

Indonesian Journal, Bogor — Mahasiswa IPB University bernama Al Fiqie berhasil mencatat potensi transaksi ekspor hingga Rp33 miliar. Melalui perusahaan rintisannya, PT Export Tani Nusantara saat ini juga rutin mengekspor komoditas pinang ke Bangladesh dan Maladewa.

Pada Jumat (12/6/2026), Menteri Perdagangan RI Budi Santoso turut melepas ekspor produk pinang senilai Rp2,2 miliar dari perusahaan miliknya di IPB Dramaga, Bogor.

Ia menjelaskan, bisnis ekspor tersebut mulai dirintis sejak dirinya duduk di semester tiga kuliah. Awalnya, perusahaan hanya mampu mengirim satu kontainer setiap tiga bulan. Kini, frekuensi pengiriman meningkat menjadi lima hingga enam kontainer per bulan.

Al Fiqie menambahkan, MoU ekspor ke Tiongkok saat ini mencapai sekitar 54 ton.

Al Fiqie, CEO PT Export Tani Indonesia.
Al Fiqie, CEO PT Export Tani Indonesia. Dok. Redaksi

Menurut CEO Export Tani itu, dukungan dari Kemendag dan IPB University menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan usaha mereka. Perihal terkait pelatihan, pendampingan, hingga akses pasar internasional turut membantu pengembangan dan penjualan produk hingga ke luar negeri.

“Salah satu yang paling membantu ketika ikut pameran dagang di Shanghai. Akomodasi dan transportasi difasilitasi IPB, sedangkan Kemendag membantu support booth, banner, hingga business matching,” katanya.

Selain mengekspor bahan baku pinang, PT Export Tani Nusantara juga mulai mengembangkan produk turunan berbasis riset kampus. Beberapa produk yang disiapkan antara lain slice betel nut hingga produk berbasis ekstrak herbal.

“Kita ingin produk yang dikirim keluar nanti bukan hanya raw material, tetapi juga barang setengah jadi atau produk turunan,” ujar Al Fiqie.

Sebelum Berangkat Sudah Ada Calon Buyer

Sementara itu, Budi Santoso menjelaskan bahwa program Campuspreneur tidak hanya mengajarkan mahasiswa menjadi eksportir, tetapi juga memahami strategi pemasaran produk di pasar domestik maupun internasional.

Menurutnya, Kemendag memberikan fasilitasi mulai dari pelatihan ekspor, desain produk, kurasi, hingga business matching dengan calon pembeli luar negeri melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia.

“Kita fasilitasi dari pelatihannya, desain produknya, sampai business matching dengan perwakilan perdagangan dan atase di luar negeri,” ujar Budi.

Ia mengungkapkan, Kemendag saat ini memiliki 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk membantu membuka akses pasar bagi eksportir baru, termasuk startup kampus dan pelaku usaha muda.

Budi juga menyebut sistem business matching kini dilakukan bahkan sebelum peserta berangkat mengikuti pameran internasional. Atase perdagangan disebut wajib mencarikan calon buyer agar peserta dapat langsung melakukan transaksi saat berada di luar negeri.

“Jadi sebelum berangkat itu harus sudah ada calon buyer. Jangan sampai mahasiswa kita sampai sana tidak ada buyer yang datang,” katanya.

Program Campuspreneur sendiri diluncurkan secara nasional pada April 2026 dan telah diikuti oleh 19 perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut menghubungkan mahasiswa dengan pelatihan ekspor, kurasi produk, pameran internasional, hingga akses pembeli mancanegara.

Rektor IPB University Dr Alim Setiawan Slamet mengatakan program Campuspreneur akan diintegrasikan dengan kurikulum kampus melalui pengakuan kredit akademik atau SKS.

“IPB punya visi menjadi Technosocial Entrepreneur University. Program ini sangat sinergis dengan ekosistem yang sedang kami bangun,” ujarnya.

IPB juga mengembangkan berbagai ekosistem bisnis seperti “One Village One CEO”, “One Village One Exportir”, dan “Desa Ekspor” untuk mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis inovasi dan keberlanjutan.

 

Community Podcast

Latest articles

Related articles