Indonesian Journal, Jakarta – KH. Ma’ruf Amin yang dikenal sebagai alim ulama yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, di usianya yang ke-83 tahun, merilis sebuah buku yang diberi judul ‘Fikroh, Manhaj dan Hakarah Nahdliyyah’. Buku yang diharapkan menjadi pertanda kebangkitan warga NU.
Buku yang tulis oleh penulis Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin ini menyajikan lanskap pemikiran Kiai Ma’ruf yang komprehensif, salah satunya mengenai integrasi antara komitmen keagamaan (Mithaq Rabbani) dan komitmen kebangsaan (Mithaq Watani). Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa bagi umat Islam di Indonesia, menjaga agama dan menjaga negara bukanlah dua entitas yang saling berbenturan. Hal ini dijabarkan secara rinci melalui pilar Harakah Waṭaniyyah (Gerakan Kebangsaan).
Ditemui awak media pada acara peluncuran buku Fikroh, Manhaj dan Harakah Nahdhiyyah, Hj, Siti Haniatunnisa (Hani), yang juga anak ke-8 Kiai Ma’ruf Amin, menceritakan perjalan yang dilaluinya untuk mengumpulkan dan menyatukan pemikiran sang bapak menjadi sebuah buku setebal 600 halaman.
“Ide awalnya hanya mengumpulkan ide-ide pemikiran Kai Ma’ruf Amin tentang NU yang sering beliau sampaikan pada saat bicara dibanyak forum. Sudah lama sekali kami mengumpulkannya, dan baru sekarang, akhirnya bisa kita kemas dalam satu buku yang diharapkan menjadi panduan bagi keluarga besar NU,” ungkap Hani pada kesempatan wawancara di sela-sela acara peluncuran buku yang digelar di Hotel Grand Sahid, pada Rabu (5/8).
Pada sambutannya, Kiai Ma’ruf Amin menekankan pentingnya bagi warga NU untuk mengenal NU dengan baik, sehingga tidak sekedar ikut-ikutan, serta pentingnya warga NU yang memiliki pikiran yang berkualitas sehingga nantinya bisa memimpin NU untuk lebih maju.
“Saya ingin NU dibangun dengan mengemukakan kualitas dari pada kuantitas. Menjadi warga NU bukan sekedar identita,tapi juga memahami NU dengan baik. Sejatinya melakukan apapun itu hendaknya berdasarkan keyakinan dan ilmu yang mendasar. Bukan karena kata gurunya, keluarga atau temannya saja. Kita juga perlu mencari kebenaran dari setiap apa yang akan kita lakukan.”” ungkap Kiai Ma’ruf Amin yang saat ini juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Masih menurut Kiai yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ini, bahwa NU berdiri diatas 3 pilar utama yaitu fikrah atau cara berpikir, manhaj atau metode dan harakah atau gerakan. Sehingga NU bukan organisasi yang statis dan tidak juga liberar. “NU berdiri dan kemudian tumbuh dengan melewati proses yang dinamis, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman.”
Peluncuran buku ini tidak bisa dilepaskan dari momentum sejarah kebangsaan dan keumatan yang beriringan. Perhelatan ini hanya berselang sepuluh hari sejak peringatan Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-51 yang jatuh pada 26 Juli 2026, serta menyongsong peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus 2026 mendatang, serta Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, pada akhir Agustus 2026.
Pemikiran Kiai Ma’ruf dalam buku ini hadir layaknya kado reflektif yang merajut erat tali keagamaan dan kebangsaan. Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa bagi umat Islam di Indonesia, menjaga agama dan menjaga negara bukanlah dua entitas yang saling berbenturan. Hal ini dijabarkan secara rinci melalui pilar Harakah Waṭaniyyah (Gerakan Kebangsaan).
Dihadiri sejumlah tokoh nasional dan ulama, di antaranya Menteri Agama Prof. KH. Nasaruddin Umar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, serta para kiai dan perwakilan pesantren dari berbagai daerah. Pada acara ini KH. Ma’ruf Amin juga menyinggung kriteria ideal seorang pemimpin Nahdlatul Ulama menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU 2026. Sejumlah tokoh yang disebut-sebut menjadi kandidat Ketua PBNU turut hadir dalam acara tersebut di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.
Melalui buku ini, KH. Ma’ruf Amin berharap warga Nahdlatul Ulama tidak hanya memiliki identitas sebagai bagian dari organisasi, tetapi juga memahami nilai, metode berpikir, tradisi keilmuan, serta gerakan yang diwariskan para pendiri NU agar tetap relevan menghadapi tantangan zaman.
