Indonesian Journal, Salatiga – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti sukses menjadi roda penggerak ekomoni Indonesia dalam banyak krisis yang telah dilalaui. Seperti pada krisis yang disebabkan pandemi COVID beberapa tahun yang lalu, yang membuat ekonomi beberapa negara di dunia mengalami krisis. Di Indonesia, yang memiliki jutaan UMKM berhasil melewati krisis tersebut dengan ekonomi dan nilai tukar rupiah yang stabil.
Sayangnya, keberadaan UMKM yang menyebar di pelosok Indonesia banyak yang tidak tersentuh kemajuan teknologi yang membatu pengembangan pasar dan kemudahan melakukan transaksi, hingga market bisa lebih luas.
Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP), yang tergabung dalam tim KKN Kutowinangun Kidul selama lebih dari 2 pekan mendatangi para pelaku pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Kutowinangun Kidul, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, satu per satu dari pintu ke pintu. Bukan hanya untuk mendata, tapi juga untuk memperkenalkan digitalisasi usaha yang disesuaikan dengan kebutuhan pedagang, mulai dari pengelolaan media sosial, pembukuan sederhana hingga pebuatan QRIS.
Lurah Kutowinangun Kidul, Nanik Dyah Anggraeni, S.Ag., M.M., menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, pembaruan data UMKM perlu dilakukan secara berkala agar kelurahan memiliki gambaran akurat soal jumlah dan kondisi usaha warga terkini.
“UMKM di Kelurahan Kutowinangun Kidul memang sudah pernah didata pada 2025, namun perlu pendataan ulang agar kami tahu jumlah UMKM yang terbaru di tahun 2026 ini. Saya juga berharap mahasiswa KKN bisa membantu mempromosikan usaha warga, supaya programnya benar-benar memberi dampak positif bagi masyarakat.” Nanik Dyah Anggraeni.
Memulai KKN dengan pengumpulan data, pendekatan dan kemudian pendampingan. Program ini dibuat berjenjang agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap usaha, yang memang berbeda-beda.
Seperti yang diungkapkan salah seorang anggota Tim KKN Kutowinangun Kidul dalam keterangan tertulisnya, yang diterima tim redaksi Indonesian Journal, pada Selasa (18/8).
“Kami mulai dengan mendata profil, legalitas, sampai kendala usaha tiap UMKM lewat kuesioner. Dari situ kami tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan masing-masing pelaku usaha, baru kemudian pendampingan dilakukan sesuai kebutuhan itu.” Anggota Tim KKN Kutowinangun Kidul.
Sebagian UMKM potensial bahkan mendapat pendampingan lebih jauh, termasuk penyusunan standard operating procedure (SOP) kerja sederhana. Salah satu UMKM yang mendapat pendampingan adalah Kopi Babah Kacamata di RW 2, usaha kopi yang telah berdiri sejak 1965 dan diteruskan lintas dua generasi. Meski sudah puluhan tahun berjalan, usaha legendaris ini ternyata masih mengelola keuangannya secara sederhana tanpa pembukuan yang rapi.
“Usaha Kopi Babah Kacamata sudah dikelola sejak 1965 dan sudah dua generasi. Walaupun sudah lama berdiri, usaha ini masih tergolong UMKM dan memang perlu pembukuan keuangan yang rapi, yang kemudian dibantu oleh mahasiswa KKN dari Undip.” — Astono, Pemilik Kopi Babah Kacamata.
Tak berhenti pada pendataan dan pendampingan langsung, seluruh hasil pendataan kemudian diolah menjadi sebuah website e-catalog UMKM Kelurahan Kutowinangun Kidul. Website ini memuat profil setiap UMKM yang telah terdata, sekaligus berfungsi sebagai etalase digital dan sarana promosi bagi usaha warga. Sebagai pelengkap, mahasiswa KKN juga menyusun pemetaan lokasi UMKM melalui Google Maps, sehingga keberadaan tiap usaha lebih mudah ditemukan oleh calon pembeli. Dari data yang terkumpul, beberapa UMKM berpotensi kuat turut diangkat sebagai ikon UMKM Kutowinangun Kidul dalam website tersebut.
Sebagai penanda selesainya program, website e-catalog tersebut diserahkan secara resmi kepada Kelurahan Kutowinangun Kidul untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut. Lurah Nanik turut menyampaikan apresiasinya atas kontribusi mahasiswa KKN.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pendataan ini karena database UMKM kami jadi lebih lengkap dan mutakhir. Program pendampingan seperti QRIS dan media sosial ini juga sangat relevan dengan kebutuhan warga saat ini,” tutup Nanik Dyah Anggraeni.
