IndonesianJournal.id, Jakarta — Di satu panggung pameran multinasional, orang bicara soal baterai kendaraan listrik yang akan jadi limbah 322 ribu ton pada 2035. Di panggung lain, orang bicara soal desain stopkontak yang sengaja dibuat bertahan 20 tahun. Dua topik yang tampak tidak berkaitan ini ternyata membicarakan hal yang sama.
Dalam IEE Series Energy Week 2026 di JIExpo Kemayoran, ekonomi sirkular bukan sekadar jargon penutup presentasi. Ia hadir berulang, di panggung yang membahas baterai maupun panggung yang membahas desain booth pameran.
Benang Merah Ekonomi Sirkular
Benang merahnya sederhana namun jarang disadari. Sebuah produk atau sistem tidak lagi dinilai hanya dari fungsinya saat baru. Ia juga dinilai dari apa yang terjadi setelah masa pakainya berakhir.
Chairman IdBattery, Niko Chandra, menyuarakan prinsip ini dari sisi industri penyimpanan energi.
“Sebuah ekosistem yang matang harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup baterai, mulai dari bahan baku hingga pembuangan akhir,” katanya.
Bagi Niko, tanggung jawab produsen tidak berhenti begitu baterai terjual dan terpasang.
Prinsip yang sama, dari sudut yang lebih mendesak, disampaikan Guru Besar Riset Evvy Kartini. Ia mengungkap limbah baterai kendaraan listrik Indonesia diproyeksikan mencapai 322 ribu ton pada 2035. Indonesia menurutnya belum memiliki lembaga khusus untuk mengukur siklus pakai baterai secara menyeluruh.
Proyeksi ini bukan angka jauh di masa depan. Adopsi kendaraan listrik yang terus tumbuh membuat pertanyaan soal baterai bekas semakin mendesak dijawab sekarang. Tanpa mekanisme jelas, baterai yang dulunya solusi transisi energi berisiko berubah jadi beban lingkungan baru.
Menariknya, logika serupa muncul juga di tempat yang tidak terduga, di lantai pameran itu sendiri. Program penghargaan Better-Stands mengapresiasi peserta yang merancang stan minim material sekali pakai. Salah satu peraihnya adalah Goneo, brand stopkontak dengan usia pakai hingga 20 tahun.
Group Head Marketing PT Karunia Teknologi Kreasindo Sandy menjelaskan filosofi di balik pilihan ini.
“Visi kami memang adalah menjunjung sustainability untuk produk-produk yang kami tawarkan secara global,” ujarnya.
Filosofi itu ia bawa pula ke cara membangun booth pameran, bukan sekadar ke produk yang dijual.
Tiga narasumber ini tidak saling mengenal konteks presentasi satu sama lain. Namun ketiganya sampai pada kesimpulan yang sama secara independen. Desain yang baik adalah desain yang sudah memikirkan akhir sejak awal.
Ekonomi Sirkular di Energy Week 2026
Pola ini menunjukkan sesuatu tentang arah industri energi Indonesia saat ini. Ekonomi sirkular tidak lagi jadi wacana terpisah dari transisi energi. Ia justru menjadi prasyarat agar transisi energi itu sendiri tidak menciptakan masalah lingkungan baru di kemudian hari.
Pertanyaannya bukan lagi apakah industri energi Indonesia perlu menerapkan ekonomi sirkular. Pertanyaannya adalah seberapa cepat prinsip ini bergerak dari panggung diskusi ke praktik industri secara luas. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah proyeksi 322 ribu ton limbah baterai pada 2035 benar-benar terjadi, atau berhasil ditekan sejak sekarang.

