Limbah Baterai Kendaraan Listrik RI Diproyeksi Tembus 322 Ribu Ton pada 2035

IndonesianJournal.id, Jakarta — Limbah baterai kendaraan listrik di Indonesia diproyeksikan mencapai 322 ribu ton pada 2035. Guru Besar Riset Evvy Kartini mengungkap proyeksi ini dalam workshop The Battery Show Indonesia. Ia menyebut lonjakan dimulai dari 57 ribu ton pada 2030, seiring pesatnya adopsi kendaraan listrik nasional.

Profesor peneliti dari BRIN tersebut menyoroti Indonesia yang hingga kini belum memiliki lembaga khusus penentu siklus pakai baterai. Lembaga tersebut idealnya mampu mengukur tingkat penuaan dan sisa kualitas baterai secara komprehensif. Mekanisme daur ulang baterai setelah masa pakai berakhir juga dinilainya masih perlu penguatan lebih.

“Ini menjadi pekerjaan rumah penting dalam membangun ekosistem baterai nasional, termasuk kebutuhan terhadap special tools untuk mengukur kondisi baterai,” kata Evvy Kartini. 

Ia menekankan pengembangan mekanisme Extended Producer Responsibility sama mendesaknya. Mekanisme ini disebutnya penting agar pengguna mengetahui usia optimal baterai sejak awal.

Tantangan pengelolaan baterai bekas ini muncul di tengah pertumbuhan pesat industri digital dan energi Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat Indonesia kini memiliki 246 data center tersebar di 134 lokasi. Pertumbuhan infrastruktur digital dan kendaraan listrik ini sama-sama mendorong kebutuhan sistem penyimpanan energi yang lebih matang.

Evvy Kartini menilai baterai bekas semestinya tidak dipandang sekadar limbah semata. Baterai bekas berpotensi menjadi sumber daya baru lewat alih fungsi atau repurposing. Selain itu, daur ulang baterai turut membuka peluang ekonomi baru bagi industri dalam negeri.

Pernyataan ini disampaikan dalam rangkaian forum IEE Series Energy Week 2026 hari ketiga di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara masih berlangsung hingga Sabtu, 5 September 2026, mempertemukan tiga pameran sekaligus. Ketiganya meliputi Electric & Power Indonesia, Data Center Asia Indonesia, dan The Battery Show Indonesia.

Kebutuhan mendesak ekosistem baterai nasional ini turut beririsan dengan agenda transisi energi terbarukan Indonesia. Sistem penyimpanan energi yang matang dinilai jadi prasyarat pemanfaatan energi terbarukan secara optimal. Tanpa mekanisme daur ulang yang jelas, potensi limbah baterai berisiko menjadi beban lingkungan baru.

Community Podcast

Latest articles

Related articles