Indonesian Journal, Karanganyar — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi di Kabupaten Karanganyar. Kegiatan ini menjadi langkah BMKG mendorong kesiapsiagaan yang berkelanjutan lintas sektor pemerintah dan masyarakat.
Sekolah Lapang ini mengusung tema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan gempa bumi memang belum bisa diprediksi secara pasti.
“Gempa bumi belum dapat diprediksi, tetapi kesiapsiagaan dapat kita bangun dan latih sejak dini,” kata Faisal. Ia menyebut program ini selaras dengan inisiatif global Early Warning, Early Action, dan Early Warning for All.
Anggota Komisi V DPR RI Hamid Noor Yasin menilai posisi geografis Karanganyar menuntut kewaspadaan proaktif. Wilayah ini berdekatan dengan sesar aktif daratan dan zona subduksi selatan Jawa.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan langkah konkret untuk membangun kesadaran kolektif,” ujar Hamid. Ia berharap kegiatan ini melahirkan budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan di Karanganyar.
Sebanyak 53 peserta lintas unsur mengikuti kegiatan ini, mulai dari BPBD hingga media massa. Peserta lain berasal dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Diskominfo, Dinas Pendidikan, satuan pendidikan, dan relawan kebencanaan.
Materi pelatihan mencakup pengenalan Earthquake Early Warning System dan simulasi guncangan gempa. Peserta turut mengikuti diskusi kelompok dan Table Top Exercise untuk melatih pengambilan keputusan darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar Sugiharjo menegaskan pentingnya membangun Komunitas Siaga Bencana dari desa hingga kabupaten. Langkah ini diharapkan memperkuat keselamatan generasi mendatang di wilayah rawan gempa.
Tantangan Lama Kesiapsiagaan Berkelanjutan
Tantangan menuju kesiapsiagaan yang berkelanjutan sebenarnya sudah disinggung di forum berbeda. Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah dalam rapat dengar pendapat bersama BMKG dan Basarnas pada November 2025 menilai program serupa masih terbatas skalanya.
“Program-program seperti Sekolah Lapang dan Goes to School itu bagus, tapi menurut saya belum dilakukan secara masif,” kata Musa.
Pada saat itu, Ia mendorong edukasi tanggap bencana dimasukkan ke kurikulum sekolah formal agar dampaknya bertahan lebih lama.
BMKG kini mengajak seluruh lapisan masyarakat mengubah informasi kebencanaan menjadi tindakan nyata. Keberhasilan mewujudkan kesiapsiagaan yang berkelanjutan akan bergantung pada tindak lanjut pengetahuan peserta ke keluarga dan lingkungan sekitar.

