Indonesian Journal, Jakarta — Peneliti University of South Florida dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan fenomena ledakan alga makin meluas di lautan dunia. Temuan ini dibantu kecerdasan buatan untuk memetakan titik-titiknya secara global. Ledakan alga memicu bau tidak sedap, kerusakan ekologis, dan kerugian ekonomi wilayah pesisir.
Bagaimana dampaknya di perairan Indonesia? Saat ledakan alga terjadi, warna laut berubah dari biru menjadi hijau pekat atau merah kecokelatan. Perubahan ini bisa terlihat jelas secara kasat mata.
Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir dari IPB University, menjelaskan penyebab dasar fenomena ini. Ledakan alga terjadi karena meningkatnya kandungan nutrien di perairan yang berasal dari daratan.
“Ledakan alga selalu terjadi di perairan berdekatan permukiman penduduk,” ucapnya.
Nutrien berlebihan berasal dari limbah domestik permukiman, aktivitas pertanian, peternakan, hingga budi daya perikanan. Bahan organik dari aktivitas itu terbawa sungai menuju pesisir. Kondisi ini disebut eutrofikasi, meningkatnya kandungan nutrien secara berlebihan di perairan.
Selain nutrien, cahaya matahari dan kondisi fisik perairan turut mempengaruhi pertumbuhan alga. Wilayah berarus tenang memungkinkan nutrien bertahan lebih lama di air. Teluk Jakarta, Teluk Banten, dan Teluk Lampung disebut sebagai contoh wilayah dengan karakteristik rawan ledakan alga.
Ledakan Alga dan Bahaya yang Mengincar Meja Makan Keluarga
Tumpak Sidabutar, pakar ekologi laut dari BRIN, menjelaskan ledakan alga sudah terjadi di Indonesia meski tidak sering. Fenomena ini melibatkan tiga kelompok alga utama, yaitu diatom, dinoflagellata, dan cyanobacteria. Masing-masing kelompok punya karakteristik dan tingkat bahaya berbeda.
Dinoflagellata dikenal sebagai penyebab warna merah sekaligus penghasil racun yang terakumulasi di kerang-kerangan. Cyanobacteria membentuk lapisan hijau seperti cat di permukaan air dan bersifat beracun.
“Blooming adalah indikator perairan tidak seimbang,” tegas Tumpak.
Dampak terbesar ledakan alga adalah menurunnya kadar oksigen di perairan. Fotosintesis siang hari dan respirasi malam hari oleh alga dalam jumlah besar menghabiskan oksigen secara drastis. Kondisi ini memicu kematian massal ikan dan organisme laut lainnya.
Racun dari alga berbahaya bisa mencemari hasil laut seperti kerang-kerangan. Manusia yang mengkonsumsi kerang beracun berisiko mengalami diare, muntah, dan gangguan kesehatan lain.
“Hasil tangkapan laut juga menurun, serta aktivitas pariwisata terganggu,” jelas Ario.
Indonesia belum memiliki sistem surveilans rutin untuk mendeteksi ledakan alga secara dini. Keterbatasan anggaran riset laut di lembaga pemerintah dan universitas jadi kendala utama. Padahal, deteksi dini penting mengingat banyak wilayah pesisir Indonesia berkarakteristik rawan.
Ario menekankan solusi utama ada di sumber masalah, bukan sekadar penanganan dampak.
“Solusi agar ledakan alga tidak terjadi adalah dengan mengatasi persoalan pencemaran di sumber yang ada di daratan, terutama kawasan padat penduduk,” pungkasnya.
Ledakan alga bukan sekadar fenomena visual, melainkan sinyal ketidakseimbangan ekosistem laut yang butuh regulasi dan deteksi dini.

