Asap Kahutla, Berikut Kajian Dampaknya Terhadap Hubungan Indonesia-Singapura

Indonesian Journal, Jakarta – Bencana kebakaran hutan dan lahan yang mencapai jutaan hektar menjadi perhatian dunia. Dampak asap kebakaran di Indonesia tidak lagi menjadi bencana nasional, beberapa negara tentangga di kawasan Asia Tenggara juga terdampak, dan ini menjadi perhatian serius.

Mengutip sebuah artikel Reuters yang dimuat 14 Oktober 2026, mengatakan efek kebakaran tersebut menyebabkan peningkatan gangguan pernapasan di Indonesia dan penurunan kualitas udara di sejumlah negara, termasuk Singapura. Tidak hanya itu, Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) juga mengirimkan pemberitahuan kepada tujuh perusahaan di Indonesia terkait kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.

Persoalan asap lintas batas telah lama menjadi bagian dari pembahasan Indonesia dan Singapura. Menurut Artikel mindef di tahun 2015, Indonesia mendapatkan bantuan dari Negara Singapura untuk memadamkan api di wilayah terdampak.

Oleh karena itu, komunikasi antara kedua negara menjadi sangat krusial untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Namun, bagaimana jika hubungan diplomatik kedua negara benar terputus?

Penting untuk dicatat bahwa isu pemutusan hubungan diplomatik ini hanya sebatas pengandaian. Permasalahan seperti export gas dan kebakaran hutan yang terjadi tidak membuat hubungan Indonesia dan Singapura serta-merta terputus.

Apalagi, kedua negara sudah menjalin hubungan sejak 7 September 1967. Selama kurun waktu tersebut, berbagai bidang mengalami kemajuan pesat, meliputi sektor perdagangan, investasi, hingga penanganan permasalahan lingkungan.

Di bidang ekonomi, Singapura menjadi salah satu mitra penting Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat nilai perdagangan kedua negara mencapai 32,8 miliar dolar AS pada 2025. Pada tahun yang sama, investasi Singapura di Indonesia mencapai 17,4 miliar dolar AS.

Kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun serta kawasan ekonomi khusus. Selain itu, kedua negara membahas investasi, transportasi, pariwisata, ketenagakerjaan, dan agribisnis melalui enam kelompok kerja ekonomi bilateral. 

Pada 6 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong bertemu dalam Leaders’ Retreat di Jakarta. Keduanya membahas penguatan hubungan di berbagai bidang, termasuk energi, kerja sama digital, dan ketahanan rantai pasok. 

Dalam pertemuan itu, Wong menyampaikan bahwa Singapura memiliki kepercayaan terhadap masa depan Indonesia. Ia juga menilai investasi Singapura turut mendukung pembangunan dan pembukaan lapangan kerja.

“Kami ingin Indonesia berhasil karena masa depan kita terhubung dengan dekat,” kata Wong, sebagaimana dikutip Sekretariat Negara.

Lalu jika suatu saat hubungan diplomatik benar terputus, komunikasi resmi antara kedua pemerintah berpotensi menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pembahasan kerja sama baru maupun koordinasi dalam menangani persoalan bersama, termasuk asap lintas batas.

Disisi lain, kerja sama kedua negara ini pun berdampak signifikan bagi kestabilan kawasan Asia Tenggara.  Apalagi, kedua negara tersebut merupakan anggota ASEAN yang terlibat dalam pembahasan berbagai permasalahan regional, termasuk penanganan asap lintas batas.

Sebab itulah, hubungan kedua negara sangat berdampak langsung pada masyarakat dan dunia usaha. Jika skenario terburuk terjadi dan hubungan diplomatik terputus, Dampaknya berdasarkan keputusan politik antar kedua negara atau keberlanjutan kerjasama yang ada.

Penting untuk dicatat bahwa isu pemutusan hubungan diplomatik ini hanya sebatas pengandaian. Permasalahan seperti export gas dan kebakaran hutan yang terjadi tidak membuat hubungan Indonesia dan Singapura serta-merta terputus.

Apalagi, kedua negara sudah menjalin hubungan sejak 7 September 1967. Selama kurun waktu tersebut, berbagai bidang mengalami kemajuan pesat, meliputi sektor perdagangan, investasi, hingga penanganan permasalahan lingkungan.

Di bidang ekonomi, Singapura menjadi salah satu mitra penting Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat nilai perdagangan kedua negara mencapai 32,8 miliar dolar AS pada 2025. Pada tahun yang sama, investasi Singapura di Indonesia mencapai 17,4 miliar dolar AS.

Kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun serta kawasan ekonomi khusus. Selain itu, kedua negara membahas investasi, transportasi, pariwisata, ketenagakerjaan, dan agribisnis melalui enam kelompok kerja ekonomi bilateral. 

Pada 6 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong bertemu dalam Leaders’ Retreat di Jakarta. Keduanya membahas penguatan hubungan di berbagai bidang, termasuk energi, kerja sama digital, dan ketahanan rantai pasok. 

Dalam pertemuan itu, Wong menyampaikan bahwa Singapura memiliki kepercayaan terhadap masa depan Indonesia. Ia juga menilai investasi Singapura turut mendukung pembangunan dan pembukaan lapangan kerja.

“Kami ingin Indonesia berhasil karena masa depan kita terhubung dengan dekat,” kata Wong, sebagaimana dikutip Sekretariat Negara.

Lalu jika suatu saat hubungan diplomatik benar terputus, komunikasi resmi antara kedua pemerintah berpotensi menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pembahasan kerja sama baru maupun koordinasi dalam menangani persoalan bersama, termasuk asap lintas batas.

Disisi lain, kerja sama kedua negara ini pun berdampak signifikan bagi kestabilan kawasan Asia Tenggara.  Apalagi, kedua negara tersebut merupakan anggota ASEAN yang terlibat dalam pembahasan berbagai permasalahan regional, termasuk penanganan asap lintas batas.

Sebab itulah, hubungan kedua negara sangat berdampak langsung pada masyarakat dan dunia usaha. Jika skenario terburuk terjadi dan hubungan diplomatik terputus, Dampaknya berdasarkan keputusan politik antar kedua negara atau keberlanjutan kerjasama yang ada.(Cito-kontib Semarang)

Community Podcast

Latest articles

Related articles