Indonesian Journal, Jakarta — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) meluncurkan blog baru Faisal Basri di kantornya, Jalan Batu Merah No. 45, Jakarta Selatan. Peluncuran digelar sehari sebelum hari lahir almarhum pada 6 November. Dalam acara itu, Prof. Ahmad Erani Yustika menyebut Faisal Basri sebagai intelektual organik, yakni cendekiawan yang tidak berjarak dari kehidupan rakyat.
Direktur Eksekutif INDEF Ester Sri Astuti sebelumnya menuturkan, gagasan ini bermula dari keluarga Faisal Basri. Mereka menghubungi INDEF karena blog almarhum ternyata masih berjalan dan pihak keluarga ingin blog itu tetap terawat.
Menurut Ester, INDEF menyambut gagasan tersebut karena Faisal adalah pendiri dan tokoh senior lembaga itu. Ia juga menilai Faisal bukan hanya milik INDEF atau Universitas Indonesia, melainkan tokoh nasional yang pemikiran kritisnya harus terus disuarakan.
Rencananya, konten blog akan diperluas. Selain tulisan, INDEF berencana menghimpun video, tulisan almarhum di berbagai media massa, arsip podcast, dan foto.
Munculnya Istilah Intelektual Organik
Erani menjelaskan, perubahan besar dalam sejarah kerap digerakkan sekelompok kecil orang yang memiliki kesadaran kritis dan keteguhan menyuarakannya. Menurutnya, status intelektual tidak ditentukan gelar atau ijazah, melainkan kesadaran kritis dan kemampuan menggemakannya di tengah masyarakat.
Dalam kerangka itu, Erani membedakan dua tipe. Intelektual tradisional memiliki kesadaran kritis tetapi berjarak dengan masyarakat. Intelektual organik memahami situasi masyarakat secara utuh, mampu memproyeksikan masa depan, dan tetap bergumul dengan buruh, petani, serta kelompok akar rumput.
“Bang Faisal lebih tepat disebut sebagai intelektual organik,” kata Erani.
Ia merinci tiga wajah Faisal. Faisal seorang akademisi yang bekerja dengan riset disiplin dan sistematis. Ia intelektual teknokratik yang pandangannya diminta para menteri bidang ekonomi, meski tidak menduduki jabatan pemerintahan. Ia juga aktivis yang tidak bisa diam ketika melihat keputusan penguasa yang dianggap keliru.
Erani menyebut, menjelang wafat Faisal masih berangkat ke Sumatera Utara untuk menggalang advokasi bagi petani, padahal kondisi kesehatannya tidak prima. Ramdan Malik, adik Faisal Basri, menambahkan bahwa kakaknya pernah datang ke suatu daerah untuk membela petani yang menghadapi persoalan alih fungsi hutan menjadi kawasan industri.
Dokumentasi sebagai Warisan Pengetahuan
Ramdan berharap sekitar 800 tulisan Faisal dapat dihimpun menjadi kumpulan pengetahuan yang kaya. Ia mencontohkan karya Soedjatmoko, sekitar 300 tulisan yang dihimpun ketiga putrinya menjadi buku.
Ia juga menyebut sejumlah dokumentasi lain tentang Faisal, yaitu buku obituari yang diterbitkan secara independen oleh LPM, buku terbitan INDEF setelah almarhum wafat, dan buku dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Lembaga itu bahkan menamai satu ruangan dengan nama Faisal Basri.
Erani mengusulkan blog Faisal diintegrasikan dengan platform INDEF. Dengan begitu, INDEF menjadi rumah besar yang memiliki kanal khusus bagi para tokohnya, seperti kanal Faisal Basri, Didik J. Rachbini, Nawir Messi, dan Iman Kamandanu.
Ia juga mengusulkan blog dibuka bagi publik. “Saya kira, karena Bang Faisal adalah milik masyarakat, blog beliau juga dapat dibuka agar bisa diisi oleh publik, apabila memungkinkan,” ujarnya.
Estafet Kepada Generasi Muda
Ramdan mengaku bahagia melihat para peneliti muda INDEF hadir dalam acara itu. Menurutnya, sebagian besar dari mereka adalah anak ruhani Faisal. Erani menambahkan, kajian dan advokasi menjadi dua pilar yang ditegakkan INDEF sejak berdiri pada 1995, kini berusia 31 tahun.
Blog baru ini pada akhirnya menjadi ujian bagi warisan sang intelektual organik. Pertanyaannya, apakah ruang yang dibuka bagi publik mampu menjaga kejernihan pemikiran Faisal Basri sebagaimana yang dicita-citakan para penggagasnya.

