Indonesian Journal, Jakarta — Proyek TRISEG menargetkan UMKM perempuan dan kelompok kurang terwakili menjadi mayoritas peserta pendampingan menuju pasar Kanada. Proyek ini diluncurkan di auditorium Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Trade Facilitation Office Canada (TFO Kanada) menjalankannya bersama Kementerian Perdagangan dengan dukungan Pemerintah Kanada.
TRISEG atau Trade for Resilient, Inclusive and Sustainable Economic Growth telah berjalan lima tahun di 16 negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Targetnya 200 UMKM dilatih per negara, atau 3.200 UMKM secara keseluruhan. Setidaknya 67 persen UMKM peserta ditargetkan dimiliki atau dipimpin perempuan dan kelompok kurang terwakili.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi meminta mitra ikut mempromosikan program. Ia ingin program menjangkau kelompok usaha yang dimiliki dan dikelola oleh perempuan. Program juga diminta menjangkau kelompok yang selama ini belum memperoleh akses dan representasi secara optimal.
Dirjen menyebut dukungan TFO Kanada meliputi pengembangan desain produk, struktur harga, strategi penetapan harga, dan akses pembeli. Berdasarkan paparan TFO Kanada, 200 UMKM per negara dilatih dan 40 di antaranya mengikuti aktivitas akses pasar. Minimal lima UMKM per negara ditargetkan mengalami pertumbuhan bisnis.
Kepala Kerjasama Pembangunan Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, Alice Birnbaum, menyampaikan sasaran proyek dalam pidatonya. “Melalui TRISEG, kami bertujuan mendukung sekitar 200 UMKM Indonesia, dengan fokus kuat pada usaha milik dan dipimpin perempuan.” ujarnya berbahasa inggris.
Alice juga mengatakan CEPA Kanada dan Indonesia berlaku 1 Desember 2026 serta berharap proyek ini membantu UMKM memanfaatkannya. Fortune IDN mencatat Kanada meliberalisasi 90,55 persen pos tarif, dengan manfaat bergantung pada jadwal dan aturan asal barang.
Program Director TFO Kanada Zaki Munshi mengatakan lembaga pendukung lokal menjadi kunci agar dukungan berlanjut setelah proyek berakhir. Lembaga tersebut akan diperkuat kapasitasnya untuk memberikan layanan yang responsif gender. Dukungan mencakup pelatihan, pendampingan, riset pasar, hubungan bisnis antar-perusahaan, dan berbagi pengetahuan.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri pada 24 Juni 2026 menyebut lebih dari 50 persen pelaku UMKM adalah perempuan. Ia juga menyebut hambatan berupa keterbatasan modal dan minimnya pendampingan usaha berkelanjutan. Data Kemenkeu yang dimuat IDX Channel pada Juli 2022 menunjukkan perempuan memiliki 52 persen usaha mikro dan 34 persen usaha menengah.
TFO Kanada mencantumkan formulir pendaftaran UMKM Indonesia dalam materi paparannya. Proyek ini diharapkan membuka jalan bagi UMKM perempuan Indonesia memasuki pasar Kanada.

