PLTS Atap 1,4 Megawatt CCEP Bekasi Diresmikan, Dorong Daya Saing Industri

Indonesian Journal, Bekasi — Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia bersama PT Cikarang Listrindo meresmikan PLTS atap berkapasitas 1,4 megawatt di Bekasi 2 Plant, Rabu (4/11/2026). PLTS atap industri ini diperkirakan menghasilkan sekitar 1,76 gigawatt per jam (GWh) listrik terbarukan setiap tahun.

Christanto Prananto dari Cikarang Listrindo menyebut energi tersebut setara dengan pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 1.180 ton CO2 per tahun. Angka itu juga setara dengan karbon yang diserap hampir 20 ribu pohon selama 10 tahun.

Customer Service and Supply Chain Director CCEP Indonesia, Linda Christina menjelaskan pembagian peran dalam proyek ini. Produsen minuman tersebut menyediakan area, fasilitas, serta pemasangan dan instalasi panel surya. Cikarang Listrindo menghadirkan teknologi dan infrastruktur yang memungkinkan energi terbarukan dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional pabrik.

“Bagi kami, ini adalah esensi dari transisi energi. Bukan hanya tentang teknologi, bukan hanya tentang investasi, tapi mengenai kolaborasi,” ujar Linda.

Bekasi 2 Plant merupakan satu dari lima fasilitas produksi CCEP Indonesia. Sebelumnya, perusahaan pengemas Coca-Cola itu telah memasang panel surya di pabrik lain, di antaranya di Pasuruan dan Semarang. Linda menyebut pemasangan panel surya di Bekasi sebagai langkah konkret untuk terus menekan emisi karbon dari proses manufaktur.

Christanto menegaskan keberlanjutan kini menjadi tema sentral bagi organisasi di seluruh dunia. “Keberlanjutan sekarang ini bukan lagi menjadi sebuah pilihan,” katanya. Menurut dia, proyek ini mendukung program pemerintah mencapai zero emission pada 2060 dan diharapkan membuka peluang program keberlanjutan lain bersama CCEP Indonesia.

Kuota PLTS Atap Industri Masih Terbatas 

Pembangunan PLTS atap di Bekasi 2 Plant berlangsung ketika sektor industri menjadi penggerak utama pemanfaatannya secara nasional. Menurut data PLN yang dilaporkan Listrik Indonesia pada 30 April 2026, kapasitas yang terpasang hingga 2026 mencapai 861,14 megawatt peak (MWp). Dari lebih 11 ribu pelanggan, sekitar 81 persen berasal dari sektor industri.

Cikarang Listrindo, mitra proyek ini, merupakan perusahaan listrik swasta yang melayani pelanggan industri di kawasan industri Cikarang. Menurut keterangan perusahaan, Cikarang Listrindo juga memasok listrik kepada PLN sejak 1996.

Di sisi PLN, pemasangan PLTS atap masih dibatasi kuota dengan alasan keandalan sistem. Wakil Presiden Eksekutif Aneka Energi Baru Terbarukan PLN, Rachmat Nichol, mengatakan dalam Indonesia Solar Summit 2026 bahwa PLN mengusulkan tambahan kuota sebesar 229 MW kepada pemerintah, dan jumlah itu menurutnya masih kurang (14/6/2026). Ia mengaitkan penambahan kuota dengan perkembangan teknologi penyimpanan baterai, sementara keputusan akhir berada di tangan pemerintah, sebagaimana dilaporkan Katadata.

Katadata juga mencatat bahwa pada Januari 2026 Kementerian ESDM membuka permohonan pemasangan PLTS atap sebesar 485 MW, dan 304 MW di antaranya sudah dialokasikan bagi pelanggan di daftar tunggu. Kuota tahun ini disebut cepat habis.

Transisi Energi Bukan Sekedar Pilihan

Isu daya saing industri ikut mengemuka dalam acara peresmian PLTS Atap CCEP Indonesia kemarin. Linda mengajukan pertanyaan yang menurutnya perlu dijawab bersama, yakni bagaimana memastikan industri tetap kompetitif sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Kepala Dinas ESDM Jawa Barat Tulus Arifan menilai transisi energi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, dan mendukung target net zero emission 2060.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan akan terus mendorong kemudahan bagi industri untuk berinvestasi di energi terbarukan, dengan tetap memperhatikan peraturan daerah dan ketentuan yang berlaku. Pemprov juga mendorong replikasi inisiatif serupa di wilayah lain, mengingat Jawa Barat memiliki banyak kawasan industri. Pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri disebut perlu bekerja bersama mengatasi tantangan regulasi, teknis, serta keekonomian pengembangan PLTS atap.

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan, perwakilan Pemprov Jawa Barat menyebut energi terbarukan yang dikembangkan di provinsi itu tidak hanya tenaga surya, tetapi juga mikrohidro. Penerangan jalan tenaga surya mulai dipakai, namun perawatan baterainya masih menjadi tantangan karena masyarakat perlu menjaga fasilitas umum tersebut.

Ia menyatakan seluruh desa di Jawa Barat sudah teraliri listrik. Meski demikian, sebagian kampung yang jauh dan berkondisi geografis berbeda masih membutuhkan jaringan tambahan. Ada kampung yang hanya dihuni 20 hingga 30 kepala keluarga. Pemprov, katanya, terus berkoordinasi dengan PLN dan mendorong PLN membangun jaringan hingga menjangkau seluruh kampung.

Kehadiran PLTS atap Bekasi 2 Plant diharapkan menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi pelaku industri lain di Jawa Barat agar memanfaatkan energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi energi.

Community Podcast

Latest articles

Related articles