IndonesianJournal.id, Jakarta – Sebagai sebuah fenomena, “Negara Blok M” adalah sebuah julukan terhadap transformasi pusat gaya hidup dan kuliner paling progresif. Kawasan terkenal di Selatan Jakarta itu pernah mengalami keterpurukan, khususnya ketika pandemi melanda. Kini, kawasan yang memiliki tiga mall besar itu menjadi destinasi padat pengunjung.
Sebagai penerima mandat kawasan Transit Oriented Development (TOD) dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT MRT Jakarta (Perseroda) mengungkapkan ambisinya melalui bincang-bincang podcast Kreatorhub. Mewakili MRT Jakarta, Rendy Primartyanto, menjelaskan wajah baru ke depan kawasan ikonik tahun 1980-an itu.

Selain itu, division head dari corporate secretary MRT Jakarta itu juga menerangkan perjalanan berdirinya “Negara Blok M”. Perjalanan tersebut diawali dari keinginan pihak Pemprov DKI Jakarta untuk merevitalisasi area-area yang sebelumnya dianggap kurang produktif.
Awal Mula Transformasi “Negara Blok M”
Transformasi ini bermula dari titik balik Taman Literasi Martha Tiahahu.
“Dulu kawasan tersebut dikenal gelap dan minim aktivitas positif. Namun, setelah direvitalisasi oleh MRT Jakarta, kini berubah menjadi pusat literasi, ruang kreatif, dan tempat nongkrong populer yang selalu ramai oleh anak muda dan acara-acara aktivasi seni,” ujar Rendy.
Kesuksesan taman ini menjadi pembuktian bahwa pengelolaan kawasan yang tepat dapat menghidupkan kembali ekonomi lokal.
Pengembangan kawasan difokuskan pada integrasi berbagai gerai makanan viral untuk menarik minat pengunjung. Area ini dirancang untuk menghidupkan kembali ruang-ruang komersial yang sempat sepi agar menjadi destinasi gaya hidup yang dinamis.
Untuk menyukseskan rencana pusat wisata kuliner terintegrasi, Blok M Hub dihadirkan MRT Jakarta. Masyarakat kemudian memiliki lebih banyak pilihan tempat bersosialisasi yang terhubung langsung dengan akses transportasi publik.
Mendorong Budaya Jalan Kaki
Melalui mandat pengelolaan TOD, MRT Jakarta berkomitmen menciptakan kawasan Blok M yang ramah pejalan kaki. Perbaikan trotoar yang lebar dan nyaman di sekitar stasiun dilakukan agar warga Jakarta dapat berpindah moda transportasi dengan mudah tanpa hambatan.
“Kami ingin kawasan Blok M kembali hidup dan menjadi destinasi utama. Dengan integrasi yang seamless, tidak ada alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak menggunakan transportasi publik,” tambah Rendy.
Pembangunan dan revitalisasi ini dilakukan secara bertahap. Target Perseroda tersebut menjadikan sebuah standar baru kawasan urban yang mandiri dan berkelanjutan di Jakarta. Salah satunya, di “Negara Blok M”.