Saturday, January 17, 2026
HomeProfileCerita Veny Lie Tentang Keajaiban Musik Piano bagi Anak-Anak Luar Biasa

Cerita Veny Lie Tentang Keajaiban Musik Piano bagi Anak-Anak Luar Biasa

IndonesianJournal.id, Jakarta – Ungkapan kalau musik bahasa universal yang gampang dimengerti semua kalangan sepertinya terbukti nyata dengan banyak kondisi yang tidak menguntungkan, bisa dijembati dengan musik. Termasuk untuk terapi bagi anak-anak special, seperti ADHD, Cerebral Palsy, Dispraksia, Disleksia hingga down syndrome.

Seperti yang dilakukan seorang guru piano, Veny Lie, yang mulai bermusik dari usia 3,5 tahun. Mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya, Veny memulai kelas musiknya dengan les privat organ elektronik, hingga mencapai grade terakhir yang setelahnya Veny melanjutkan ke piano.

“Waktu itu saya masih sangat muda, malah bangga bisa jadi guru. Murid-muridnya tetangga sendiri, dan semua mengalir begitu saja,” Veny mengenang saat pertama kali memberanikan diri mengajar piano. Saat itu, di tanah kelahirannya, Pematang Siantar, Sumatera Utara, Veny masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

Hingga akhir 1990-an, Veny rutin mengajar murid reguler. Perubahan besar datang pada 2003, ketika seorang ibu meminta ia mengajar anak dengan autisme atas saran dokter.

“Saya sama sekali tidak tahu seperti apa anak autisme. Saya pikir, ya sudah, datang saja dulu, kita coba,” ujarnya. “Saya benar-benar bingung. Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa dipelajari sedangkan untuk fokus saja sulit?” lanjutnya jujur.

Pada pertemuan berikutnya, Veny mengambil keputusan spontan: memeluk anak itu dari belakang, memberi batas fisik sekaligus rasa aman.

“Saya pegang dari belakang, bukan untuk menahan, tapi supaya dia merasa aman. Dan saat itu, untuk pertama kalinya, dia bisa duduk diam,” tutur Veny.

Dengan tangan kecil yang masih gelisah, jari anak itu diarahkan ke tuts piano. Ia tak tahu apakah anak tersebut memahami atau tidak. “Waktu itu saya tidak tahu masuk atau tidak. Yang penting prosesnya jalan dulu,” katanya.

Proses berulang itu perlahan menunjukkan hasil. Setelah beberapa bulan, dokter menyampaikan adanya peningkatan fokus yang signifikan.

“Dulu fokusnya cuma lima menit. Setelah terapi musik, bisa sampai sepuluh menit dan mulai merespons. Buat saya, itu sudah luar biasa,” ujarnya. Dan sejak saat itu, murid berkebutuhan khusus berdatangan dengan latar belakang yang beragam.

Veny mengaku bahwa tiap anak membutuhkan penanganan yang berbeda “Saya akhirnya sadar, satu anak itu satu cara. Tidak mungkin disamaratakan,” kata Veny.

Karena murid spesialnya semakin banyak, Veny memutuskan membuka sekolah music Ven’s Club di daerah Kelapa Gading.

Tak hanya untuk anak berkebutuhan khusus, piano juga memiliki manfaat untuk lansia. Bagi usia lanjut, piano menjadi sarana menjaga ketajaman otak sehingga mencegah lansia terkena demensia. “Main piano itu bikin otak kiri dan kanan tetap nyambung. Itu penting banget buat usia lanjut,” katanya.

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments