Dear You, Sebuah Film Tentang Cinta Yang Telah Hilang Karena Takdir

Indonesian Journal, Jakarta – Sebuah film bertema cinta dan keluarga yang diproduksi bersama oleh Shenzhen King Ant Pictures, Damai Entertainment, Rongde Holdings dan Shenzhen Lichun Pictures berjudul Dear You, mulai tayang di bioskop di Indonesia pada Jum’at (7/8).

Film yang berdurasi 118 menit ini dibintangi Li Sitong, Wang Yantong, Wu Shaoqing, Zheng Runqi, dan Wang Xiaohui, serta aktris asal Thailand, Usha Seamkhum. Sementara naskah ditulis bersama oleh Lan Hongchun, yang juga menjadi sutradara di film yang mengambil lokasi di wilayah Chaoshan, Provinsi Guangdong. Selain Lan Hongchun ada Zheng Xuanxuan, Yang Leng dan Zhu Liyun yang ikut menulis skenarionya.

Film Dear You berkisah tentang nenek Iap Sogriu yang harus berpisah dengan suaminya, Den Bhagseng, yang harus meninggalkannya untuk menghindari wajib militer. Berpisah puluhan tahun beredar rumor tentang Bhagseng yang telah menikah lagi, namun Iap Sogriu tetap menerima kiriman uang dari Bhagseng.

Terbebani oleh utang yang besar, cucunya yang bernama Hiou-ui pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya yang disangka kaya raya itu. Namun, ia justru mendapati bahwa Bhagseng telah meninggal dunia pada tahun 1960, dan qiaopi yang dikirimkan sejak kematiannya ternyata berasal dari seorang wanita Tionghoa-Thailand tak dikenal bernama Zia Lamgi. Hiou-ui berhasil melacak keberadaan Zia Zeghua, putra dari Lamgi, yang kemudian mengungkap kisah sebenarnya yang tersembunyi di balik surat-surat berusia puluhan tahun tersebut.

Alur cerita kembali untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Bhagseng yang dituturkan putra Lamgi, Zeghua. Sementara Lamgi sendiri mengalami demensia, memicu gelombang emosi dari masa lalu yang mereka bagi bersama. Keluarga Den dan Zia menjalin ikatan yang baru, dan abu atau papan arwah Bhagseng akhirnya dibawa pulang ke kampung halamannya di Tiongkok.

Selain menjadi sleeper hit dengan meraup   pendapatan lebih dari ¥1,9 miliar pada pemutarannya di beberapa wilayah terpilih di Tiongkok. Film ini juga memberikan dampak di Asia Tenggara. Di Singapura, perilisan versinya berbahasa Mandarin memicu perdebatan publik dan parlemen mengenai Kampanye Berbicara Mandarin. Sementara itu, film ini turut memengaruhi kampanye politik selama pemilihan umum tingkat negara bagian di Malaysia. (dillia)

Community Podcast

Latest articles

Related articles